KEISTIMEWAHAN SALAFUNA SHOLEH DARI KALANGAN ALAWIYYIN

Posted on

Pada malam ini kita ingin membahas tentang skill para Salafuna Sholeh dari kalangan alawiyyin, Kenapa mereka dari semenjak dahulu sampai zaman kini mereka itu menjadi suatu komunitas yang bisa diterima oleh semua kalangan menjadi sebuah komunitas yang diterima oleh segala aliran (thoriqoh) yang masih berada di payung syariah islam yang dibawa dan disebarkan langsung oleh Nabi kita Muhammad SAW, Ada tiga hal yang menjadikan mereka itu menjadi diterima sepanjang zaman sepanjang waktu dan menjadi solusi sebetulnya bagi umat ini, Sebab pertama adalah karena merekalah yang disebut oleh Nabi dan yang didoakan oleh Nabi dan itu merupakan sebuah kelanjutan dan kesinambungannya rahmat ya nabi untuk umat ini, Sebagaimana Nabi SAW bersabda dalam haditsnya

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي كَمَثَلِ نُجُوْمٍ فِي السَّمَاء النُّجُوم أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاء ، وَأَهْلُ بَيْتِي أَمَان لِأَهْلِ الأَرْض

النُّجُومُ أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ، وَأَهْلُ بَيْتِيَ أَمَانٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ

 

“Bintang-bintang adalah pengaman bagi penghuni langit, dan keluargaku adalah pengaman bagi penghuni bumi/” (HR. Ar Rouyani)

 

Jadi sebagaimana bintang gemintang yang ada diatas sana itu merupakan sebab pengaman atau juru aman bagi penghuni langit maka begitu pula ahlu bayt yang ada di muka bumi ini menjadi juru aman bagi penghuni bumi, Di dalam hadits lain Nabi SAW bersabda

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِى فِيْكُمْ كَمَثَلِ سَفِيْنَةِ نُوْح، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

 

“Perumpamaan keluargaku di antara kalian seumpama bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barang siapa yang tertinggal darinya akan tenggelam.  (HR. At Thabarani)

 

Perumpamaan keluargaku ini sama seperti perahunya Nabi Nuh, Pada saat terjadi sebuah bah dan banjir yang luar biasa meliputi seluruh bumi maka tidak ada yang bisa menyelamatkan kecuali perahu yang dibuat oleh Nabi Nuh itu, Yang naik ke dalam perahu itu dia selamat yang tidak naik sekuat apapun orangnya, selihai apapun orangnya, sepintar apapun orangnya dia akan tenggelam dan hanyut dalam banjir bah itu, Sehingga dikatakan oleh Nabi SAW maka siapa yang naik ke perahu itu selamat yang tidak naik maka dia akan tenggelam dalam kesesatan tenggelam dalam kebatilan tenggelam dalam dunia tenggelam, tenggelam dalam kesesatan, tenggelam dalam kebathilan, tenggelam dalam dunia, ternggelam dalam jabatan, tenggelam dalam hal-hal yang lainnya, Itu maksudnya,

Dan di antara doa yang dipanjatkan oleh Nabi kita Muhammad SAW yang pastinya kalau kita bertanya kepada antum semuanya doanya nabi itu kira-kira diterima tidak ya oleh Allah SWT maka niscaya kita akan mengatakan bagaimana tidak, Nabi Muhammad adalah kekasihnya, Nabi Muhammad adalah karenanya tercipta alam semesta, Nabi Muhammad adalah seseorang yang dikatakan oleh Allah Ta’ala أول شافع وأول مشفع Oleh karena itu sulit untuk kita katakan ah tidak, sama saja seperti yang lainnya, Tapi yang benar doanya nabi akan didengar oleh Allah Ta’ala dan akan diijabahkan, Di antara doa yang dipanjatkan oleh Nabi kita Muhammad SAW untuk anak cucunya itu adalah

اللهم اجعلهم مفاتيح الرحمة واجعل ألسنتهم معادن الحكمة

Ya Allah jadikanlah dimanapun mereka berada menjadi tempat turunnya rahmat dan jadikanlah lidah-lidah mereka sebagai sumber-sumber kata-kata mutiara dan kata-kata bijak,

Sehingga doa Nabi inilah yang melekat pada diri mereka dan apapun yang mereka tekuni kalau mereka memberikan nasehat asalkan sesuai dengan sumbernya yaitu karena Allah SWT maka akan masuk kedalam orang yang mendengarnya, Itu maksud daripada doanya nabi dan dimanapun mereka berada akan menjadi tempat tercurahnya rahmat Allah SWT dan keamanannya di tempat,

Oleh karenanya beruntung bagi mereka yang bertetangga atau di kota itu di desa itu ada dzuriat Nabi Muhammad SAW, Lebih-lebih ada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang sayangnya entah kenapa hadits ini jarang diriwayatkan oleh seorang Ustadz tapi lebih banyak yang meriwayatkan itu adalah orang tertentu terkait dengan habaib, pecinta habaib dan lain sebagainya, Padahal itu adalah sebuah skenario hidup selamat yang dipaparkan diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW apalagi dikuatkan riwayat hadits itu dengan hadits yang shahih riwayat Imam Muslim yang terkenal dengan hadits tsaqolayn dimana Nabi SAW bersabda :

إِنَّمَا أَنَا امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُوْلَ رَبِّي فَأُجِيْب وَأَنَا تَارِكٌ الثَّقَلَيْن مَا إِنْ تَمَسَّكْتُم بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا

أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ ” فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: «وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي»

Aku ini adalah manusia biasa, mungkin sebentar lagi akan datang utusan Tuhanku kemudian aku iyakan undangannya atau panggilannya atau permintaannya yaitu menemui ajalnya, Tapi aku tinggalkan untuk kalian dua hal, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya,

Jelas kan sabda Nabi SAW tersebut, Sangat gamblang, bukan termasuk yang  jawami’ul kalim daripada mukjizatnya Nabi, Itu jelas sekali :

مَا إِنْ تَمَسَّكْتُم بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا

Apa itu?

كِتَابُ الله فِيْهِ النُّور وَ الهُدَى فَاسْتَمْسِكُوا بِهِ

Yang pertama adalah kitabnya Allah Al Qur’an, Disitu ada petunjuk ada cahaya, Berpegang teguhlah  dengan kitab Allah tersebut, Yang kedua,

وَ إِثْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Dan keluargaku ahli baytku, Lalu Nabi SAW berpesan,

أذكركم الله في أهل بيتي, أذكركم الله في أهل بيتي, أذكركم الله في أهل بيتي

Aku ingatkan kalian terkait dengan keluargaku, aku ingatkan kalian terkait dan keluargaku dan aku ingatkan kalian terkait dengan keluargaku, Jadi seumpama kalau kita itu berpijak kepada satu hadits saja tanpa hadits-hadits yang sebelumnya sudah cukup jelas,

Kita sekarang berada di zaman yang dalam keadaan kebingungan, Mana yang benar mana yang salah, mana yang haq mana yang bathil, mana ulama yang benar-benar memperjuangkan agamanya mana ulama yang begini yang begitu dan lain sebagainya maka jelas ini adalah sebuah skenario hidup yang aman sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad,

Kalau kita berpegang teguh dengan Al Qur’an dan berpegang teguh dengan para ulama dari kalangan dzuriat Nabi Muhammad SAW atau mereka para ulama yang mengakui daripada mereka para dzuriat Nabi Muhammad SAW sampai silsilahnya, keilmuannya, ijazahnya kepada Nabi SAW maka dialah yang termasuk yang selamat, Itu maksudnya Nabi Muhammad SAW, Itu yang pertama faktor utama kenapa para dzuriat nabi itu selalu moderat jadi artinya masuk ke dalam segala lini bisa diterima dalam segala waktu dan zaman serta situasi,

Yang kedua, para habaib mereka itu masih memegang dan berpegang teguh kepada kemurnian ajaran Nabi kita Muhammad SAW, Yang demikian itu dengan cara apa mereka menjaganya karena lingkungan yang mereka pelihara dari turun-temurun ayah kakek moyang mereka itu sampai kepada nabi Muhammad SAW itu seperti itu sudah diajarkan, Tata cara berbicara, tata cara dia itu bercengkrama, tata cara dengan keluarga, tata cara dengan tetangga, tata cara dengan para santri, tata cara dengan para ulama itu berbeda dan mereka itu belajar langsung bukan dari guru tapi dari ayah ke ayah ke ayah ke ayah dan terus begitu terus selanjutnya sampa kepada Nabi Muhammad SAW, Itu yang tidak dimiliki oleh yang lainnya,

Sehingga satu contoh yang mudah saja, kalau rumah habaib iasanya kalau kita itu masuk ke rumahnya pasti ada sekatnya antara ruang tamu sama ruang dalam, Itu hampir rata di rumah habaib itu seperti itu, Biasanya kalau rumah habaib itu ada ambennya, Yang demikian itu adalah hal-hal yang remeh sebetulnya tapi itu sangat sangat mendasar ya sangat sangat mengakar di dalam adat-istiadat para habaib karena memang urusan perempuan dan urusan makanan itu dua hal yang sangat menjadi perhatian bagi para ulama dari kalangan dzuriat Nabi Muhammad SAW dan urusan perempuan mereka tidak menggampangkan,

Oleh karenanya bagaimana kita lihat para habaib dengan para istri-istrinya, Jadi mereka itu sangat-sangat bisa dikatakan jadi sangat tertutup dari mulai cara berpakaiannya dan sebagainya kalau seumpama ada yang tidak seperti itu ya namanya juga manusia pasti ada oknumnya komunitas itu ada oknumnya, Jangan salahkan yang banyak itu karena yang sedikit, Jangan kemudian kita hukumi yang banyak itu dengan faktor yang sedikit itu, lalu kemudian faktor yang ketiga karena ilmu-ilmu yang kita dapatkan daripada guru-guru kita dan sebelum kita itu mendapatkan ilmu tersebut daripada guru-guru kita kita sudah mempunyai rukun tersendiri bagaimana cara mendapatkan ilmu itu, Sebagaimana disebutkan di dalam syi’irnya Al Habib Abdullah Al Haddad

هاهي أعمال خلت عن شوائب ¯ وعلم واخلاق وكثرة أوراد

 

Jadi setiap hamba itu sebelum belajar pada yang lainnya itu harus menekuni rukun ini dulu, Ini rukun yang paling utama bagi para ulama dari golongan para habaib, Sehingga mungkin kalau kita itu cermati kita lihat-lihat jadi hampir-hampir dikatakan kalau para habaib, ulama, para da’i itu hampir sama seperti itulah coraknya, Karena memang mereka itu turun-temurun menjaga tradisi yang semacam ini, Jadi mereka belajar pada semua, Berapa banyak para habaib yang punya guru bukan dari kalangan mereka sendiri tapi sebelum dia itu berguru dia sudah menekankan rukun-rukun terkait dengan kehidupan yang akan dijalani yaitu dengan rukun yang disebutkan tadi, Apa itu? هاهي اعمال خلت عن شوائب semua yang kita lakukan خلت عن شوائب jadi sesuatu yang pasti,

Sesuatu yang pasti disini maksudnya apa? Kita tidak mau terlalu tasydid kita tidak mau juga terlalu meremehkan jadi di tengah-tengah, Kalau seumpama terlalu tasydid itu kata Nabi SAW :

يسِّروا ولا تعسِّروا

 

“Mempermudahlah kalian, dan janganlah mempersulit.” (HR. Al Bukhari)

Kata Nabi SAW :

الدين يسرٌ ولا عسرٌ

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا،

وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ»

(HR. Al Bukhari)

 

Agama itu mudah bukan sulit, Mudahkanlah, jangan mempersulit umat itu bagi mereka ketika berfatwa tapi untuk diri mereka sendiri mereka itu berpegang teguh kepada amal-amal yang tidak ada keraguan disitu, tidak ada dikatakan disitu dengan hawa nafsunya tapi kata-kata, ucapan, tindakan yang mereka lakukan mereka terapkan itu ada sesuatu yang bebas dari segala hal yang bisa mematahkan, bisa memudarkan, bisa memusnahkan, bisa menghilangkan pahala-pahala pada apa yang kita lakukan, kita tindakan, kita ucapkan, kita lintaskan dalam hati itu mereka, Sehingga mereka itu bisa dikatakan orang yang paling berpegang teguh dengan fiqih syari’ah itu adalah mereka, Sangat berhati-hati mereka dan mereka tidak mau mempersulit umat, Kemudian bukan cuma itu saja,

Artinya mereka itu selalu mencari sesuatu yang mu’tamad tapi yang mu’tamad itu  karena mereka itu juga mempunyai orang tua, kakek moyang yang mempunyai derajat yang sangat tinggi dari segi keilmuan bahkan sampai ke derajat fatwa walaupun demikian tetap mereka itu tidak menjadikan kakek moyang mereka itu adalah satu-satunya madzhab atau madzhab yang dipegang oleh mereka, Tidak keluar dari madzhab yang empat itu,

Begitu pula aqidah tauhid mereka adalah asy’ariyah maturidiyah dan tidak ada yang di luar itu kebanyakan, kita berbicara umum ya kita bicara tentang yang pokok tentang yang asal tentang yang umum di kalangan para habaib atau para ulama’ dari kalangan habaib, وعلم واخلاق وكثرة أوراد

Dan mereka itu mengiringi segala amaliyah dengan ilmu, Mereka tidak mudah membiarkan melepaskan seorang anak tanpa didasari dengan ilmu dahulu, apapun yang mereka lakukan, Mau jadi dokter silahkan tapi ilmu dulu, Ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu yang turun temurun daripada Nabi SAW kemudian kepada Sayyidina Ali bin Abi Tholib, Sayyidah Fatimah lalu kemudian Sayyidina Hasan Sayyidina Husein lalu kepada anak-anaknya Sayyidina Ali Zainal Abidin lalu Sayyidina Muhammad Al Bagir, Sayyidina Ja’far As Shodiq, Sayyidina Ali Khuraidi, Sayyidina Husein Nagib sampai kepada para orang tua mereka, Itu maksudnya ilmu, akhlaknya juga seperti itu, Ditambah lagi وكثرة أوراد dan mereka itu banyak membaca wirid,

Oleh karena itu kita lihat di antara contohnya Al Habib Abubakar Al Adni putera daripada Habib Abdullah bin Abubakar As Sakron bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad shahibul mirbath bin Ali Khali’ Qasam dan seterusnya, Beliau suatu waktu melihat teman-teman itu belajar kepada selain ayahnya dan selain guru-guru ayahnya atau kerabat ayahnya dari kalangan habaib maka beliau juga berkeinginan bertujuan untuk belajar juga ingin seperti mereka,

Maka kemudian dia berkata begini kepada ayahnya dia minta izin, “Ayah izinkan aku untuk belajar kepada guru-guru seperti teman-teman”, Apa katanya ayahnya dengan tegas beliau katakan tidak sampai aku uji dulu kamu, “Baik ayah aku siap diuji” saking pinginnya dia itu belajar dan memperluas wawasannya di dalam keilmuannya, Maka kemudian dia berikan ujian kepada anaknya, Apa bentuk ujiannya? “Besok kamu nak pagi-pagi setelah sholat subuh setelah baca wirid kamu pergi Carilah orang yang lebih rendah dari diri kamu, carilah makhluk yang lebih hina daripada diri kamu, Itu ujian kamu dan kamu tidak datang kecuali dalam keadaan kamu sudah dapatkan siapa orangnya, siapa makhluk itu”, Pagi benar-benar setelah baca wirid dia berangkat, kembali menjelang maghrib, Setelah shalat jamaah ditanya oleh ayahnya,

“Sudah engkau dapatkan sudah engkau jawab pertanyaanku, ujianku sudah kamu rampungkan?” “Iya,” jawabnya, “Kamu dapatkan makhluk yang lebih hina daripada diri kamu?” “Iya,” jawabnya,

“Siapa dia?” “Anjing”,

“Kalau begitu kamu masih belajar pada aku dulu, kamu belum tuntas dan kamu belum sukses melewati ujian,” jawab ayahnya, Belajar sampai beberapa bulan kemudian maka dia itu izin lagi,

Kata ayahnya harus diuji lagi, “Baik ayah, sekarang aku siap”, “Ujiannya sama seperti ujian yang lalu, Kamu cari makhluk Allah yang paling hina bawa kepadaku, Jangan pulang kecuali sampai engkau dapatkan siapa makhluk yang paling hina itu”,

Maka dia berangkat tidak balik kecuali isya’, Setelah bertemu dengan ayahnya ditanya, “Sudah kamu dapatkan?”

“Sudah ayah”, “Siapa dia?”

“Ternyata yang paling hina itu adalah aku sendiri, Aku cari kemana-mana tidak ada makhluk yang lebih hina daripada aku”, Barulah Habib Abdullah mengatakan, “Nah sekarang silahkan kamu belajar ke siapa saja”,

Ilmu yang semacam itu ditanam benar-benar oleh kakek moyang kita, Jadi jangan sampai kemudian dengan kehabaiban kita, karena kita merasa sebagai dzuriyat Nabi misalnya kemudia kita merasa tidak pantas atau segan belajar pada yang lainnya, tidak, Karena ilmu yang sesuai dengan yang disampaikan oleh Nabi kita Muhammad SAW :

العلم ضالة المؤمن فإنما وجدتم فأخذه

وَرُوِّينَا عَنْ عَلِيٍّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ فِي كَلَامٍ لَهُ: «الْعِلْمُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَخُذُوهُ وَلَوْ مِنْ أَيْدِي الْمُشْرِكِينَ وَلَا يَأْنَفْ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْخُذَ الْحِكْمَةَ مِمَّنْ سَمِعَهَا مِنْهُ

وقد رواه العسكري من حديث عنبسة بن عبد الرحمن عن شبيب بن بشير عن أنس رفعه: العلم ضالة المؤمن حيث وجده أخذه

سنن الترمذي ت بشار (4/  348)

2687- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الوَلِيدِ الكِنْدِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الفَضْلِ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الكَلِمَةُ الحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

سنن ابن ماجه (2/  1395)

4169 – حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْفَضْلِ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، حَيْثُمَا وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا»

مصنف ابن أبي شيبة (7/  240)

وَكِيعٌ، عَنِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ: كَانَ يُقَالُ: الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ يَأْخُذُهَا إِذَا وَجَدَهَا

Ilmu itu diumpamakan seperti barang yang hilang yang menjadi milik setiap orang muslim, Sama seperti kalau HP kita hilang lalu kita dapatkan di suatu tempat, mau kita ambil itu hak kita, Kalau seumpama kita itu membawa ghiroh, gengsi kehabaiban dan lain sebagainya susah kita mau ngambilnya kalau ternyata ilmu itu ada bukan dari para habaib atau kalangan orang tertentu dan sebagainya, Sehingga sampai hilang dulu, hijab itu hilang dulu,

Dan untuk apa mereka itu menerapkan yang semacam itu? Karena memang datuk mereka yaitu Sayyidina Ali karomallahu wajhah yang tidak lain adalah anak didiknya Nabi langsung yang tinggal bersama Nabi dan Sayyidatuna Khodijah langsung dididik oleh Nabi makannya dari nabi dan kemudian menjadi mantunya Nabi dan kemudian menjadi ayah daripada semua keturunan Nabi, di mana Nabi SAW bersabda :

إن الله تعالى جعل ذرية كل نبي في صلبه‏‏ و جعل ذريتي في صلب علي بن أبي طالب و أنا أبوه و أصابه

المعجم الكبير للطبراني (3/  43)

2630 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، ثنا عُبَادَةُ بْنُ زِيَادٍ الْأَسَدِيُّ، ثنا يَحْيَى بْنُ الْعَلَاءِ الرَّازِيُّ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ» اللهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ ذُرِّيَّةَ كُلِّ نَبِيٍّ فِي صُلْبِهِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى جَعَلَ ذُرِّيَّتِي فِي صُلْبِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ”

Setiap keturunan daripada seorang Nabi itu berasal dari sulbinya, kecuali dzuriyatku, Dia berasal dari sulbi Ali bin Abi Tholib, Maka aku adalah ayah mereka dan aku adalah ashobah mereka,

Sayyidina Ali bin Abi Tholib mengatakan :

أنا عبد من علمنى ولوحرفا واحدا

Aku ini adalah hamba bagi orang yang mengajari aku walaupun hanya satu huruf aku adalah hambanya, Ini adalah sesuatu yang sangat mendasar bagi kalangan para habaib, Kalau masih dia itu berpegang teguh dengan kehabaibannya, gengsi dengan kehabaibannya maka bagaimana dia akan menerapkan apa yang dikatakan oleh kakeknya Sayyidina Ali bin Abi Tholib karena dialah yang memprakarsainya, Sebagaimana disebutkan oleh Nabi SAW :

أنا مدينة العلم، وعلي بابها

المستدرك على الصحيحين للحاكم (3/  137)

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِينَةَ فَلْيَأْتِ الْبَابَ»

المعجم الكبير للطبراني (11/  65)

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

Ini adalah kunci, Banyak orang yang tidak paham, Kalau kita ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat, ilmu yang sangat luas, ilmu yang sangat hebat, ilmu yang bisa mematikan, ilmu yang bisa menghanyutkan, ilmu yang luar biasa itu, ilmu yang bersumber daripada Nabi SAW maka kita harus mempunyai kuncinya, Kuncinya apa? Kuncinya harus kita itu menjadi seperti seorang hamba bagi yang mengajari kita,

Di antara kuncinya tadi disebutkan oleh Habib Abdullah Al Idrus Al Akbar yaitu kita itu harus tidak merasa diri kita lebih baik daripada orang lain apalagi daripada guru kita, Itulah tiga faktor utama kenapa kok kalangan habaib itu susah untuk di sogok supaya menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal karena memang Nabi SAW memproteksi nya dengan doanya, di antaranya adalah

فإنّهم لا يدخلكم في باب الضلالة و لم يخرجكم عن باب الهدى

Mereka itu 3 orang atau lebih sama-sama jobnya, orang alim, para da’i, para faqih tidak akan memasukkan kalian ke dalam ranah kesesatan dan tidak akan mengeluarkan kalian dari ranah kebenaran ataupun petunjuk atau hidayah, Itu yang disampaikan oleh Nabi kita Muhammad SAW,

Oleh karena itu ayo belajar kepada mereka dan jadikan salah satu daripada guru kita ini adalah para dzuriat Nabi supaya kita ini termasuk yang mempunyai ayah salah satu daripada dzuriyat Nabi, Dzuriyat Nabi ayahnya adalah Nabi berarti kalau kita menganggap mereka sebagai guru dan berguru kepada mereka berarti kita itu salah satu daripada dzuriat nabi walaupun nisbah ilmiah, Insya Allah dengan demikian ilmunya akan lebih berkah kemudian kita tersambung kepada nabi Muhammad SAW karena kita cucu walaupun cucu dari segi keilmuan,

Seperti kalau anaknya belajar di Dalwa cucunya anaknya lagi belajar Dalwa berarti cucu murid, Itu kan nisbah ilmiah, nisbah yang bersambung dengan cara ijazah itu walaupun bukan karena nasab, Tapi Insya Allah walaupun bukan karena nasab tapi tetap itu akan berguna baginya kelak nanti di padang mahsyar dari Nabi kita Muhammad SAW, Semoga kita semuanya termasuk mencintai para habaib, mengikuti ajaran mereka, meneladani mereka, menjadikan mereka kita cintai dan kita mengajarkan dan menanamkan kepada seluruh keluarga kita, murid-murid kita, santri kita, santriwati kita untuk mencintai para dzuriyat Nabi SAW,

Karena itulah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam Haditsnya dan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad adalah yang terbaik dari teori apapun yang pernah ada dari segi teori pendidikan yaitu Nabi SAW bersabda :

أدبوا أولادكم على ثلاث خصال : على حب نبيكم, و على حب أهل بيت نبيكم, و على تلاوة القرأن

الصواعق المحرقة على أهل الرفض والضلال والزندقة (2/  496)

وَأخرج الديلمي أَنه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ (أدبوا أَوْلَادكُم على ثَلَاث خِصَال حب نَبِيكُم وَحب أهل بَيته وعَلى قِرَاءَة الْقُرْآن) الحَدِيث

Didiklah anak kalian terhadap tiga hal yaitu untuk mencintai Nabi dan untuk mencintai keluarga daripada Nabi kalian dan untuk membaca Al Qur’an dan mencintai Al Qur’an,

Semoga kita semua termasuk yang mencintai para habaib dan para dzuriat nabi dan menjadikan mereka itu sebagai guru-guru kita dan semoga para habaib dijauhkan daripada segala macam kesesatan semuanya ya dan terutama yang tidak punya ilmu semoga mereka itu mau belajar ilmu dan mereka itu tidak segan untuk mau hadir majlis-majlis ilmu walaupun yang mengajar bukan para habaib dengan harapan semoga dengan seperti itu kita ini termasuk yang disenangi, membahagiakan, menyenangkan hati Baginda Rasul Muhammad SAW dan para habaib tersebut sungguh-sungguh menjadi sebuah tauladan bagi umat ini, Amin ya robbal alamin,

Ustad Segaf Baharun

Hilyah.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *