Etika Hutang Piutang

Posted on

Malam ini kita sengaja banyak yang meminta dan memohon, kita berbicara terkait dengan masalah sopan santun berhutang, Ini adalah suatu yang penting sekali karena terkait dengan tanggung jawab dunia dan akhirat, karena terkait dengan dosa dan kedzaliman, karena terkait dengan tuntutan kelak di akhirat, Apa yang terkait dengan hutang itu, sehingga seyogyanyalah seseorang itu hendaknya tidak mudah untuk berhutang, kecuali ketika kepepet, ketika darurat, ketika sudah tidak mungkin lagi dia itu berusaha,

Jadi ambil satu contoh Al-Habib Muhammad bin Thohir Ba’bud rohimahullah, beliau adalah seseorang yang mempunyai ilmu dan mengamalkan dengan keilmuannya, sehingga keilmuannya itu membawa keberkahan dan kebahagiaan baginya, serta apa yang dianggap oleh orang lain baginya itu sengsara, tapi bagi orang yang seperti beliau itu adalah suatu kebahagiaan,

Di mana rumah Al-Habib Muhammad bin Thohir ini terbuat dari gedheg bahasa Jawanya, bahasa Indonesianya kayu pring yang dipotong-potong, kemudian dirajut jadi kayak papan, kayak triplek gitu, tapi dari kayu, Kemudian dia punya seorang murid yang kaya raya, melihat kondisi rumahnya Habib yang kalau mau dibuka pintunya diangkat dulu, Dan tanah di bawah rumahnya itu di lantainya itu, bukan terbuat daripada porselen apalagi dari keramik atau dari granit, apalagi terbuat dari marmer, Ini tidak, tanah liat sederhana sekali padahal dia seorang walaiti,

Walaiti adalah seorang habib yang dilahirkan di Hadramaut, lalu berangkat ke Indonesia, Tapi kalau kita ini yang sudah dilahirkan di Indonesia dan besar di Indonesia itu namanya Muwalad, Subhanallah, tidak tega murid tersebut kepada Habib lalu dia mengatakan, “Bib, antum tolong pindah ke rumah saya dulu, Beri waktu saya sebulan, saya akan bangun rumah antum sehingga tidak menjadikan saya ini kasian setiap datang ke sini, itu selalu tidak tega kepada Habib”,

Apa jawabannya Habib itu? “Jangan, Hidup di dunia cuma sebentar, Yang penting hidup tidak ada hutang, sudah cukup tidak ada tanggungan nanti di akhirat”, Jadi lihat bagaimana orang semacam beliau yang keadaan rumahnya seperti itu, masih takut pada hutang, Tapi orang sekarang Masya Allah, hobi berhutang tapi hobi juga tidak membayar, tidak mau melunasinya, Kita akan bahas sekarang ini, penting sekali,

Jadi saya punya guru, dia termasuk pejuang bagi Pondok Dalwa, yaitu Ustadz Qomuddin Abdullah, Kita doakan semoga beliau panjang umurnya, sehat badannya, dimudahkan segala urusannya fii khoirin wa tho’ah, Beliau mengatakan begini, “Kalau dulu meminjamkan uang itu pahalanya besar, bahkan di pintu surga itu meminjamkan uang itu sama dengan pahala 10 hasanah, sedangkan bersedekah satu hasanah”,

Pahala Meminjamkan Hutang

Sepuluh kali lipat meminjamkan jadi lebih besar pahalanya, Kenapa? Ketika ditanya Nabi SAW menjawabnya dengan beliau bersabda bahwasanya, “Kalau kau bersedekah kepada seseorang, belum tentu orang itu memerlukan sedekah itu, Tetapi ketika kamu itu menghutangi seseorang, orang itu tidak berhutang kecuali ketika dia itu sangat memerlukannya”, Itu husnudzonnya Nabi atau beliau mengatakan yang demikian itu, dengan dasar standart manusia itu seperti itu,

Harusnya kalau manusia itu punya ilmu, kalau manusia itu ahlu pengajian, kalau manusia itu adalah seorang yang takut kepada Allah Ta’ala, beriman dan bertakwa, maka berhutang itu adalah sebuah hal yang menjadi sebuah alternatif yang terakhir, karena sangkut pautnya itu banyak, Banyak hal yang bisa terjadi,

Kita berhutang, kita tidak beritahu kepada keluarga, Belum lagi menggunakannya, tiba-tiba dicopet, tiba-tiba hilang, tiba-tiba dirampok, tiba-tiba dicuri, Ini adalah musibah, tapi terkait dengan orang lain, gimana hukumnya? Tetap dia wajib membayar hutangnya, Walaupun dia belum menggunakannya, karena salah dia sudah berada di tangan dia, baru hilang,

Kemudian belum lagi menggunakannya, tiba-tiba dia meninggal dunia sehingga ada di tasnya, Dikira keluarganya dia, ini adalah uangnya dia, Dibagikan kepada ahli warisnya, sementara dia tidak tahu kalau itu adalah hutang, Siapa yang celaka? Si mayit, karena terkait dengan haknya orang lain,

Oleh karenanya, dikatakan oleh para ulama’, oleh para shulaha’, “Kalau seumpama ada 1 orang yang harus dia itu berdosa, jangan berdosa dengan dosa yang berkaitan dengan manusia, tetapi berdosalah dengan dosa yang berkaitan dengan Allah”, Karena Allah itu dasar mu’amalahnya dengan hamba-hamba-Nya, dibangun dengan dasar arridho wal musamahah, Sedangkan dasar yang digunakan oleh setiap insan dengan insan yang lainnya setiap manusia dengan manusia lainnya, itu dengan dasar musyahah,

Ana kenapa baik sama Ustad Bidin? Dia kerabat ana, Coba bukan kerabat ana, belum tentu, Kenapa ana baik sama Ustad Bidin? Karena dia juga baik sama ana, Tapi kalau dia tidak baik pada ana, ana belum tentu baik sama dia, Kenapa ana baik sama Ustad Bidin? Karena ana sudah kenal dia, Coba ana tidak kenal dia, belum tentu,

Itu manusia, semua perhitungan, Tidak mungkin kita memberikan begitu saja kepada orang yang baru kita kenal, Tapi kalau Allah Ta’ala, dasar mu’amalahnya kepada hamba-hamba-Nya itu dengan dasar musamahah, Sebelum dia minta maaf sudah dimaafkan, sebelum dia minta ridho-Nya sudah diridhokan, sebelum dia meminta ampun kepada-Nya, akan diampunkan dosa-dosanya, Makanya sampai-sampai ulama’ mengatakan begini, “Kalau kita harus berdosa, maka berdosalah antara kita sama Allah, jangan dosa di antara kita sama manusia”,

Pernah suatu waktu Nabi kita Muhammad SAW, ada sebuah kejadian yang sangat-sangat mengiris hati dan kita wajib memetik pelajaran dan hikmah daripada kejadian ini, pada detik-detik atau hari-hari akhir sebelum Nabi SAW itu kemudian jatuh sakit, Nabi pernah suatu waktu membawa sebuah hadits, di mana hadits itu berbunyi begini :

يُحْشَرُ الْمَرْءُ عُرَّاةً,

Nanti dibangkitkan manusia dalam keadaan telanjang semuanya, حفاةً Tidak pakai sandal, tidak pakai alas kepala, Dalam keadaan بهمًا, Ketika disebutkan بهمًا

Maka sahabat Nabi bertanya,

وَمَا بُهْمًا يَا رَسُولَ اللهِ؟

“Apa itu buhman, ya Rasulullah?” Kata Nabi SAW,

لَا دِيْنَارَ وَلَا دِرْهَمَ

Dia tidak bawa dinar, tidak bawa dirham,

مسند ابن أبي شيبة (2/  347)

يَحْشُرُ اللَّهُ الْعِبَادَ أَوِ النَّاسَ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا» قَالَ النَّاسُ: فَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: «لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يُسْمَعُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يُسْمَعُ مِنْ قُرْبٍ، أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ، لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ عِنْدَهُ مُظْلِمَةٌ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ مُظْلِمَةٌ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ» ، قُلْتُ: وَكَيْفَ وَإِنَّمَا نَأْتِي اللَّهَ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟، قَالَ: «بِالْحَسَنَاتِ وَبِالسَّيِّئَاتِ»

مسند أحمد ط الرسالة (25/  432)

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ [بُعْدٍ كَمَا يَسْمَعُهُ مِنْ] (1) قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ، حَتَّى (2) أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، حَتَّى اللَّطْمَةُ ” قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: ” بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ” (3)

الأدب المفرد بالتعليقات (ص: 540)

(يَحْشُرُ اللَّهُ الْعِبَادَ – أَوِ النَّاسَ- عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا) قلنا: مَا بُهْمًا؟ قَالَ: (لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ) فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ – أَحْسَبُهُ قَالَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ – أَنَا الْمَلِكُ لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَأَحَدٌ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَطْلُبُهُ بِمَظْلَمَةٍ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَدْخُلُ النَّارَ وَأَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَطْلُبُهُ بِمَظْلَمَةٍ) قُلْتُ: وَكَيْفَ وَإِنَّمَا نَأْتِي اللَّهَ عُرَاةً بُهْمًا؟ قَالَ: (بِالْحَسَنَاتِ والسيئات)

Kita punya dinar, kita punya uang rupiah kapan? Kita yang masih hidup, Kalau kita sudah meninggal tidak ada rupiah itu, tidak ada dollar, tidak ada ringgit, tidak ada real, Kita masih hidup ya ada rupiah, ada uang kertas, ada uang receh, ada uang rupe, ada uang yen, Tapi kalau kita meninggal, tidak ada lagi sudah, Sebagaimana kita dilahirkan dalam keadaan tidak bawa apa-apa, kita meninggal juga dalam keadaan tidak membawa apa-apa, tapi yang ditinggalkan itu yang menjadi tanggungan kita,

Itu yang terjadi, sehingga :

إِنَّمَا هِيَ الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ,

Yang kalian bawa itu cuma kebaikan dan keburukan, sebagai implementasi daripada apa yang telah kalian lakukan selama di dunia,

Nabi SAW selalu mengingatkan kita :

الدُّنْيَا دَارُ الْعَمَلِ وَالْآخِرَةُ دَارُ الْجَزَاءِ,

Dunia itu adalah rumah untuk kita bekerja, Upah kita bukan di dunia, upah kita nanti kelak di akhirat, (Maqolah Imam Ahmad bin Hambal)

Oleh karenanya, harusnya kita melakukan segala hal lillah wa fillah wa ilallah, Setiap yang kita lakukan harus berdasarkan pada ini, Lillah wa fillah wa ilallah, Ilallah itu apa? Tujuan kita itu adalah untuk menghadap pada Allah SWT, Itu yang terjadi,

Nabi SAW menjelaskan tentang seorang muflis, Siapa muflis?

مَنِ الْمُفْلِسُ عِنْدَكُمْ؟

Siapakah orang yang bangkrut itu menurut kalian? Dijawab oleh Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq,

الْمُفْلِسُ مَنْ عَلَيهِ دَيْنٌ وَلَا مَالَ لَهُ,

صحيح مسلم (4/  1997)

Apakah yang disebut dengan Muflis / Bangkrut ?

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ

Orang muflis itu adalah orang yang punya hutang, tapi dia tidak punya harta untuk melunasinya, Orang muflis adalah orang yang tadinya kaya kemudian bangkrut, Awalnya dia punya uang, sekarang tidak punya lagi, Kata Nabi, muflis itu adalah orang yang datang dengan shalat banyak, puasa banyak, shodaqoh banyak, baca Qur’an banyak, tapi dia telah mengghibahi orang ini, dia mencaci maki orang ini, dia meludahi orang ini, dia memfitnah orang ini,

Akhirnya orang ini yang tadinya difitnah, dikata-katain sampai terluka hatinya dengan ucapannya itu, dia menuntutnya, Dia pernah hutang belum dibayar, dituntutnya, Dia pernah mendzalimnya belum terbayarkan, dia menuntutnya, Tidak lagi diberikan uang, tidak ada rupiah, tidak ada emas, tidak ada perak, yang ada itu adalah hasanah, Sehingga hasanah orang yang bersangkutan diambil, diberikan kepada yang menuntutnya, Dan kalau seumpama hasanahnya sudah habis, tapi yang menuntutnya masih banyak, apa yang terjadi? Yang menuntut itu, dosanya diambil, diletakkan di atas dosa orang yang dituntut itu, Sehingga pahala sudah habis, dosa ditambah, sehingga kemudian dia dibawa dan dikirim ke neraka, Itulah orang yang bangkrut, Naudzubillah,

Semoga kita bukan termasuk yang semacam itu, Bangkrut di dunia tidak jadi masalah, tapi bangkrut di akhirat itu sangat bermasalah, Di saat itulah Nabi SAW mengatakan :

مَنْ كَانَ لِأَخِيْهِ عَلَيْهِ مَظْلَمَةٌ فَلْيَتَحَلَّلْهَا مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا دِيْنَارَ وَلَا دِرْهَمَ, إِنَّمَا هِيَ الْحَسَنَاتُ وَ السَّيِّئَاتُ,

صحيح البخاري (3/  129)

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ [ص:130] دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Barangsiapa yang mempunyai kedzaliman kepada saudaranya, ya sekarang minta maaf sebelum datang suatu hari, di mana hari itu tidak ada lagi dinar, tidak ada lagi dirham, yang ada itu adalah kebaikan dan keburukan yang kita lakukan,

Pada saat itu, Nabi SAW mengatakan, “Ayo siapa di antara kalian yang merasa pernah aku dzalimi, maka hendaknya tuntutlah aku sekarang dan aku tidak mau kalian menuntutku nanti kelak di padang mahsyar”,

Semua di antara mereka berteriak, “Allahu Akbar! Siapa di antara kita yang pernah didzalimi oleh engkau, Ya Rasulullah, Dan tidak ada satu salah pun yang engkau lakukan, wahai Rasul, Kalaupun seumpama ada suatu perbuatan yang tidak disengaja engkau lakukan, maka kami akan maafkan”,

Apa jawaban Nabi? “Tidak, ini adalah suatu tuntutan Allah kepada setiap hamba-Nya yang telah berbuat dzalim, Oleh karenanya, biarkan aku mengumumkan dan biarkan kalian merespon”,

Subhanallah, di saat itu ada satu orang mengatakan, “Wahai Rasulullah, engkau telah melakukan suatu kedzaliman kepadaku”, “Kemarilah!” jawab Nabi, Ketika orang itu mengangkat tangannya dan berkata begitu, maka banyak sahabat Nabi yang menghunuskan pedangnya, ingin dibunuh orang ini, ‘Kurang ajar, Sudah tahu kondisinya seperti ini, tapi dia justru ingin menuntut kedzalimannya, Mana mungkin Nabi dzolim,’ Kata Nabi, “Biarkan, Ini urusanku dan dia, Ini urusan yang pelik nanti di depan Allah SWT, Biarkan aku menyelesaikannya”,

Maka kemudian dia mendekat pada Nabi Muhammad, lalu Nabi berkata, “Apa yang aku lakukan sehingga engkau menganggap aku pernah mendzalimi?”

“Ya Rasulullah waktu engkau meluruskan barisan para tentara perang, maka aku salah satu yang agak bengkok sehingga engkau mendorong aku dengan tongkatmu, Aku merasa sakit dan itu adalah sebuah kedzaliman”,

“Iya benar, itu adalah sebuah kedzaliman, Kalau begitu balaslah aku”,

Maka katanya sahabat itu, “Wahai Rasulullah, waktu itu engkau melakukan aitu dengan tongkatmu, maka aku pun akan membalas dengan tongkatmu”,

“Kalau begitu ambil tongkatku”, Diperintahkan Bilal untuk mengambil tongkatnya, Lagi-lagi sahabat itu berkata lagi, Ini sudah luar biasa gemesnya, tidak sabarnya sahabat-sahabat itu melihat kepada apa yang dilakukan oleh sahabat itu terhadap Nabi, Tapi kata Nabi, biarkan ini antara aku dengan dia,

“Wahai Rasulullah, ketika engkau itu memukulku dan mendorongku dengan tongkatmu, aku dalam keadaan tidak berpakaian”,

“Kalau begitu, aku akan lepas pakaianku”,

Begitu dilepas pakaiannya Nabi, dalam keadaan sahabat menahan amarah, ingin melampiaskan apa yang ada di dalam dada mereka terkait dengan sahabat tersebut, yang kurang ajar kepada Nabi SAW, Tiba-tiba sahabat itu justru memeluk Nabi Muhammad dengan pelukan yang lama dan mengatakan, “Aku melihat keadaanmu sekarang tambah lemah, Siapa yang tega untuk membalas sebuah kedzaliman yang engkau lakukan dan tidak ada kedzaliman yang engkau lakukan, Aku berbuat begini, aku sengaja agar supaya kulitku dan kulitmu ini pernah bersentuhan, dan aku harap dengan bersentuhan kulitku dengan kulitmu, akan menyelamatkanku kelak nanti di akhirat”,

Dalam keadaan menangis beliau katakan sehingga sahabat-sahabat Nabi yang tadinya mereka itu dalam keadaan geram marah, akhirnya mengucurkan air mata, Itulah Nabi kita Muhammad SAW, Dari sinilah makanya, jangan melakukan sebuah kedzaliman,

Orang yang punya hutang itu, kata Nabi SAW,

مُطِلُّ الْغَنِيّ ظُلْمٌ,

Menunda-nundanya orang yang mampu untuk bayar, (HR. Al Bukhari)

tapi dia tidak bayar, itu adalah sebuah kedzaliman, Mohon maaf, saya itu berkata begini bukan karena apa-apa ya, Kadang-kadang kalau ada orang datang kepada saya mau minta pinjaman, Ustadz Bidin sudah tahu saya tidak kasih,

Ustadz Qoim Berucap tentang prihal dosa menghutangi

Bukannya pelit, tapi saya berpegang teguh kepada perkataan Ustadz Qoim yang tadi kalau sekarang meminjamkan uang itu banyak dosanya daripada pahala, Karena biasanya yang meminjam uang tidak pernah melunasi dan tidak pernah bayar, Beberapa waktu yang lalu, ketika saya masih suka meminjamkan uang itu ada beberapa KTP, bahkan 10 lebih KTP, ada SIM diletakkan kepada saya sebagai jaminan, Sampai sekarang, tidak ada yang datang yang punya SIM, sampai numpuk itu KTP nya, Ini adalah salah satu contoh,

Bahkan sekarang sudah ketemu sama kita, pura-pura biasa, tidak ada beban dan sebagainya, Ini yang terjadi, Padahal kadang-kadang kita itu memberikan pinjaman itu bukan kita itu kebanyakan uang, tapi kita itu mengasihani orang itu yang dalam keadaan dihimpit sebuah himpitan, tapi ternyata balasannya seperti itu,

Oleh karenanya, kalau ada orang yang berhutang sekarang maaf ya, saya umumkan disini kalau mau berhutang jangan sama saya, Satu, karena saya tidak punya uang, yang kedua takut tidak bisa bayar, Akhirnya saya tidak bisa tidur gara-gara itu,

Oleh karena itu, maka apa yang saya lakukan kalau ada orang datang untuk berhutang? Ya saya kasih aja semampu saya, mohon maaf berhutang ke tempat lain saja, Bukan berarti saya tidak memberikan solusi karena memang keadaan, Ini yang terjadi,

Kemudian, kenapa kita itu kalau seumpama berhutang, hendaknya kita itu melaksanakan dan menerapkan sopan santun yang diajarkan oleh syari’at agama karena terkait dengan banyak hal tadi, Banyak hal itu adalah sebuah sifat-sifat atau hal-hal yang negatif, Oleh karena itu, ayo kita dengarkan apa yang harus kita lakukan kalau kita berhutang, Yang pertama, jangan kita berhutang kecuali ketika darurat, Apalagi sampai hutang di bank, jangan, Hutang di bank itu adalah riba dan dosanya riba sama seperti orang menggauli dengan ibunya sendiri, Nabi SAW bersabda :

الرِّبا بِضْعٌ وَ سَبْعُونَ بَاباً، أَصْغَرُهَا كَالْوَاقِعِ عَلَى أُمِّهِ,

Riba itu banyak macamnya dan paling sedikitnya dosa riba, sama seperti orang yang menggauli dengan ibunya sendiri, (HR. Abu Nu’aim)

Selama belum dilunasi hutangnya, berarti selama itu pula berarti dia itu dianggap berdosa menggauli dengan ibunya, Berapa dosanya, berapa hasilnya, berapa keuntungannya, Andai kata kita itu melaksanakan solusi yang dibuat oleh agama dengan kita itu kerjasama, Jangan sampai kita itu pinjam di bank, Jelas-jelas itu riba,

Apalagi sekarang yang namanya rentenir itu di mana-mana dan berlaku kepada siapapun juga, seakan-akan tidak takut pada Allah, Padahal Allah Ta’ala dengan sangat-sangat jelasnya memberikan sebuah ultimatum kepada mereka yang melakukan riba, Dengarkan baik-baik firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا, إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ,

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan segala hal transaksi riba, jika kalian benar-benar beriman

Kalau kau tidak lakukan itu, maka bersiap-siaplah bukalah front peperangan antara kalian dengan Allah, (Al Baqara; 278-279)

Siapa yang bisa memerangi Allah, siapa yang bisa memerangi Rasulullah, Maka orang yang melakukan riba, seakan-akan dia itu memerangi Allah dan Rasul-Nya, Itu karena kebiasaan hutang, Biasakan qana’ah, makan apa adanya, tidak hutang kecuali terpaksa karena hutang itu suatu beban,

Di dalam syi’ir burdah disebutkan, dan Ya Allah lepaskanlah kami daripada hutang, di mana hutang itu menjadikan akhlak seseorang itu menjadi sempit,

Mau gini tidak enak, mau gitu tidak enak, Siapa sebabnya? Kamu sendiri, Makanya jangan biasakan hutang, Jadi berhutang itu silahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, tapi kalau untuk pribadi, usahakan kalau sudah darurat tidak mungkin lagi silahkan, Tapi kalau untuk Allah dan Rasulullah, silahkan tidak papa, Untuk pondok, untuk masjid,

Kalau seumpama ada orang berhutang untuk Allah, untuk Rasulullah, untuk masjid, untuk pondok yang bukan milik pribadi, berikan, Karena memberikan hutang yang semacam itu itu pahalanya luar biasa,

Kita itu bermuamalah dengan Allah dan Rasulullah :

إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik” (At Taghabun; 17)

Jadi itu adalah قَرْض antara kita dengan Allah Ta’ala itu,,akan dibalas oleh Allah Ta’ala dengan kebaikan yang luar biasa, Tapi kalau seumpama hutang pribadi, hendaknya jangan dilakukan kecuali ketika darurat, Apalagi hutangnya itu karena ingin supaya tambah kaya, supaya tambah makmur, supaya tambah banyak hartanya itu jangan, Lebih baik hidup sederhana, tapi nikmat tidak mikir hutang,

Orang mikir hutang setiap hari itu, satu uban muncul, Jadi jangan biasakan berhutang, kalau sudah berhutang itu beban, Apa yang harus dilakukan? Yang pertama, kalau kita berhutang, jangan biasakan kita berhutang kecuali darurat, Yang kedua, kalau kita terpaksa berhutang catat baik-baik hutang kita, Catat sebagai wasiat, Karena kalau hutang itu tidak dicatat, takutnya keluarganya tidak tahu, Walaupun dia itu meninggalkan harta waris, api karena tidak diketahui oleh keluarga oleh ahli waris sehingga dia tidak tahu kalau dia punya hutang,

Makanya ketika seorang jenazah itu dibawa ke kuburannya, maka kemudian diumumkan setelah tausiyah biasanya, Apa pengumumannya? Bagi yang mempunyai hak Bani Adam dengan almarhum, supaya datang kepada ahli waris kapan saja dan kami Insya Allah siap untuk melunasinya, Diumumkan seperti itu supaya jelas, Jadi termasuk di antaranya adalah dicatat, Ditaruh di dompetnya atau di HP di catatannya, atau dicatat oleh sang asisten,

Berapa hutang saya, yang tahu Ustad Bidin, Ibu saya tidak bakal tahu karena saya tidak akan membebaninya apalagi Habib Zein, Cukup Ustad Bidin yang tau dan Ustad Bidin yang cari gimana cara bayarnya, Alhamdulillah, Karena kita takut kalau meninggal bagaimana, Kalau saya meninggal, di sini ada tulisan hutang, Itu semuanya supaya kalau kita ada apa-apa, ada yang membayarkan daripada ahli waris kita atau yang bersangkutan mungkin membebaskannya,

Apa sih yang ditakutkan ketika kita itu tidak mencatat hutang itu? Yang ditakutkan itu etidak dibayarkan oleh ahli waris, padahal hutang itu wajib dibayarkan dari harta yang ditinggalkan oleh mayit, walaupun dengan begitu tidak ada lagi harta yang ditinggalkan oleh mayit kepada ahli warisnya, Wajib, kalau seumpama masih ada hartanya, seumpama hartanya digunakan untuk bayar hutang maka tidak ada lagi harta yang dibagikan kepada ahli waris tetap hukumnya wajib membayar hutang,

Kemudian hutang itu ada dua macam, ada hutang kepada Allah, ada hutang kepada manusia, Hutang kepada Allah kalau sudah orang yang bersangkutan itu mati, maka harus didahulukan daripada hutang pada manusia, Tapi kalau orang itu masih hidup, maka hutang kepada Allah boleh diakhirkan, hutang kepada manusia di dahulukan,

Misalnya kita punya uang 35 juta, Ada dua hal yang bisa kita gunakan dengan 35 juta, 35 juta daftar haji atau 35 juta daftar ke KUA untuk kawin, Mana yang harus di dahulukan? Kawin dulu boleh di dalam agama, Gugur kewajiban haji,

Kita punya hutang 35 juta pada orang dan kita punya uang 35 juta berarti mampu melaksanakan daftar haji 35 juta, Tapi karena kita punya hutang pada orang, gugur kewajiban haji, belum wajib hajinya bayar dulu hutangnya, Tapi kalau kita meninggal maka hutang kepada Allah harus di dahulukan daripada hutang kepada manusia, Hutang kepada Allah seperti kafaroh, zakat, fidyah, nadzar itu hutang kepada Allah harus didahulukan dari manusia, Lalu kalau seumpama hutangnya banyak, siapa yang berhak untuk dilunasi dahulu daripada hutang-hutang tersebut dari harta si mayit, Apakah yang lebih lama dahulu? Tidak, yang benar adalah berapa hutang keseluruhan dipersentasekan,

Misalnya saya hutang kepada Habib Bidin 50 juta, saya hutang kepada Habib Haidar BSA 25 juta, saya hutang kepada Habib Ahmad 25 juta, berarti 100 juta, Sedangkan uang yang ada yang ditinggalkan oleh saya cuma 50 juta, Apakah semuanya dikasihkan ke Ustad Bidin atau 25 juta 25 juta, satunya tidak dapet? Tidak, tapi caranya dipersentasekan, Tidak dilihat mana yang lebih dahulu, mana yang lebih lama,

Tapi caranya adalah kita persentasekan dibagi dengan rata sesuai dengan persentasenya, Habib Bidin 50 juta, Habib Haidar 25, Habib Ahmad 25 maka berarti persentasenya Habib Bidin 50% Habib Haidar 25% Habib Ahmad 25%, Jadi uang untuk Habib Bidin 25 juta, 12,5 juta untuk Habib Haidar, 12,5 juta untuk Habib Ahmad,

Lalu sisanya gimana? Nanti minta di akhirat, Apakah wajib ahli waris menanggungnya? Tidak wajib dan tidak boleh kita membebani ahli waris untuk membayarnya, Mangkanya kita tidak tahu namanya nasib, Orang kaya, sehari biasanya faqir, bangkrut, Berapa banyak itu, Ada orang miskin sehari langsung jadi kaya,

Seperti ceritanya di Afrika itu, Ada 1 orang petani hidupnya itu susah banget rumahnya dari gedheg juga dari kayu, Ternyata dia dapat batu langka harganya 102 miliar, Coba lihat siapa yang berkehendak? Allah,

يَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ يَشَاءُ,

Allah mencabut suatu kekuasaan yang diberikan kepada yang dikehendakinya, dan Allah memberikan kekuasaan kepada yang dikehendakinya juga dalam sesaat, mau itu ilmu atau yang lainnya,

Oleh karenanya jangan merasa bangga, Kalau ada orang alim merasa bangga dan keilmuannya siapa yang memberikan ilmu itu, ilmu siapa itu yang di batidakan itu, Bukan ilmu kita kok,

Oleh karenanya, Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk selalu setiap mau berdakwah itu baca :

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا,

Sehingga tidak ada ilmu kita, Ilmu itu milik Allah, Kita ini cuma boneka yang dijadikan sebagai media untuk menyebarkan isi daripada Al Qur’annya, misi syari’atnya, Beruntung kita, Berarti kita yang dimanja oleh Allah Ta’ala, Dimanja dengan kebaikannya, dimanja dengan karunianya, dimanja dengan kemuliaannya itu yang terjadi, Siapa kita, Karena yang yang merangkai kata-kata itu adalah Allah, yang menyiapkan materinya Allah, semuanya Allah,

Ketika Allah tidak berkehendak meskipun orang alim, tidak bisa ngomong, Tapi karena Allah berkehendak, maka dia bisa ngomong, Bahkan orang yang tidak punya ilmu pun kalau Allah berkehendak, bisa ngomong, Berapa banyak yang asalnya itu bodoh, tapi karena dia itu diangkat jadi wali, Allah tidak pernah mengangkat wali itu dari orang bodoh, Begitu si bodoh itu akan diangkat jadi wali, langsung diajari dulu oleh Allah Ta’ala diberikan ilmu laduni, baru dia jadi wali Allah,

Oleh karena itu, maka jangan pernah merasa kita mempunyai, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kita semuanya ini milik Allah, Kita ini hanya diperintahkan untuk, ayo kamu ini sudah Aku ciptakan, sudah Aku besarkan, sudah Aku berikan kebahagiaan, sudah Aku berikan karunia, Ingat, laksanakan seperti yang Aku perintahkan, Jangan kamu itu menghindar, jangan kamu itu melawan, jangan kamu itu membangkang, itu saja perintah kita yang harus kita lakukan di dunia, Kita mau caci maki orang etidak boleh, oleh Allah Ta’ala tidak boleh, oleh Rasulullah tidak boleh, Kata Nabi SAW :

من كَسَّرَ قَلْبَ مُؤْمِنٍ فَكَأَنَّمَا هَدَمَ الْكَعْبَةَ سَبْعِينَ مَرَّةً,

Barangsiapa yang menghancurkan, melukai perasaan seseorang, maka dia itu seakan-akan menghancurkan Ka’bah sebanyak 70 kali,

كشف الخفاء ت هنداوي (2178)

عند الطبراني في الصغير، عن أنس رفعه: “من آذى مسلمًا بغير حق فكأنما هدم بيت الله“.

كشف الخفاء ت هنداوي (2178)

 وأخرجه النسائي عن بريدة مرفوعًا بلفظ: “قتل المؤمن أعظم عند الله من زوال الدنيا

Siapa yang menanggung dosanya, Biarkan kita yang terluka perasaannya, jangan kita yang melukai, Biarkan kita yang didzalimi, jangan kita yang mendzalimi, Biar kita yang menghutangi, jangan kita yang berhutang, Artinya, jangan mau kita itu berada di posisi yang terbebani, Masalahnya, kalau beban manusia tidak jadi masalah, Kalau Allah yang membebankan kepada kita, gimana?

Oleh karenanya hati-hati, Jadi begini konsekuensinya orang berhutang itu, takutnya sampai ahli warisnya itu tidak membayarnya, Masalahnya kalau orang tidak dibayar atau tidak dilunasi hutangnya, syafa’atnya Nabi Muhammad tidak akan sampai kepadanya,

Kita ingat bagaimana ceritanya sahabat Nabi yang meninggal dunia, Ketika sahabat itu meninggal dunia, maka datang saudaranya dan meminta izin kepada Nabi Muhammad supaya diperbolehkan untuk dishalati di masjidnya Nabi dan dishalati langsung oleh Nabi SAW, Kata Nabi, marhaba, siap,

Begitu jenazah sudah berada di hadapannya, siap untuk dishalatinya, tiba-tiba Nabi SAW bertanya, “Apakah saudaramu ini punya hutang?” Maka dijawab, iya, Ditanya berapa hutangnya, 4 dirham, Kalau diuangkan sekarang, cuma 124,000 atau 129,000, Apa kata Nabi Muhammad?

صَلُّوْا عَلَى أَخِيْكُمْ,

Kalau begitu sholatilah saudaramu,

م صحيح البخاري (394)

قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، فَقَالَ: «هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟» ، قَالُوا: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟» ، قَالُوا: لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: «هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟» قِيلَ: نَعَمْ، قَالَ: «فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟» ، قَالُوا: ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: «هَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟» ، قَالُوا: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ عَلَيْهِ [ص:95] دَيْنٌ؟» ، قَالُوا: ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ، قَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ

Rasulullah menolak untuk menyolatinya, Sampai kemudian Imam Ali dan sahabat Sa’ad bin Abi Waqof mengatakan,”Wahai Rasulullah, sholatilah dan kami akan menanggung hutangnya dan kami yang akan melunasinya”, Baru Nabi mau melaksanakan, Tapi lihat apa yang terjadi, Sore hari dicari Imam Ali, ditanyakan apakah sudah dibayarkan hutangnya, Belum kata Imam Ali, Cepat engkau bayarkan hutangnya, jawab Rasulullah, Malam hari ditanyakan lagi, apakah sudah dibayarkan hutangnya, Belum kata Imam Ali, Cepat engkau bayarkan hutangnya, jawab Rasulullah, Pagi harinya dicari juga, Ali apakah sudah dibayarkan hutangnya, Belum, kata Imam Ali, Cepat engkau bayarkan hutangnya, jawab Rasulullah,

Sewaktu di pagi harinya dia bertemu, ditanyakan lagi apakah sudah engkau bayarkan hutangnya, Jawab Imam Ali, baru saja aku pulang dari rumahnya untuk membayarkan hutangnya, Kata Nabi Muhammad, “Baru saja aku melihat api yang membakarnya semenjak kemarin, sekarang sudah padam”,

Coba lihat karena apa? Kedzaliman, Apa sih bentuk kedzalimannya? Begini, kamu enak-enakan makan di rumah sama keluarga, enak-enakan pergi ke restoran, enak-enakan makan, sementara yang kau berhutang kepadanya mikir, ‘Ya Allah kapan dia bayarnya sampai dia pusing,’ berapa masalah sudah dia lewati, Tidur kepikiran, ‘Ya Allah coba uang itu ada, saya tidak kesulitan seperti sekarang ini,’ Itu sebuah kedzaliman,

Berapa saat itu, dia renungkan dia pikirkan masalah lagi sama keluarganya, masalah lagi sama istrinya, karena istrinya minta supaya cepat dibayar karena sebab kamu, Berapa banyak masalah itu, berapa banyak kadang-kadang dia terluka hatinya, karena kata-kata yang diucapkan dan sebagainya, Itu semua karena yang berhutang tidak bayar,

Kalau etidak mampu, ya jangan berhutang, Orang berhutang itu sesuai dengan kapasitasnya, Mangkanya di dalam agama itu diperbolehkan untuk mengambil gadaian, Untuk apa? Kalau saya tidak bisa bayar, ini gadaiannya, Saya boleh tidak berhutang 10 juta? Boleh karena saya punya cincin, Cincin saya ini di atas 10 juta, Tidak papa saya berhutang di atas 10 juta, Saya tidak punya apa-apa, mau hutang 10 juta, mau bayar apa, Mau dibayar rambut, dipotong rambutnya dulu, siapa yang mau, Jadi orang harus melihat kapasitas, dia itu termasuk yang mampu atau tidak, Jangan asal-asalan begitu saja dia berhutang, Karena itu adalah sebuah kedzaliman,

Oleh karena itu, saya berpesan, ayo sama-sama kita pikirkan jangan sampai kita itu berhutang, Kalau seumpama kita berhutang, catat baik-baik, cepat lunasi karena Nabi SAW mengatakan bahwasanya :

 

مُطِلُّ الْغَنِيّ ظُلمٌ

Menunda-nundanya orang yang mampu untuk bayar, (HR. Al Bukhari)

 

Saya belum punya uang ustad, loh tanah itu apa? Itu kan aset Ustadz, Lah uang sama aset apa bedanya, jual, Saya cuma punya rumah ini Ustadz, ya sudah jual rumahnya ambil rumah kontrakan, Kok dibiarkan orang itu mengalah lalu kamu itu tidak mau mengalah, Hendaknya kalau kita berhutang sesuai dengan kapasitas kita mampu tidak untuk kita itu melunasinya, Kalau tidak mampu ya jangan,

Emang betul disebutkan dalam Al Qur’an :

فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ

Ya tunggulah sampai dia itu mudah,   (Al Baqoroh; 280)

Tapi masalahnya, kadang-kadang dia itu punya aset, tidak mau dijual, Jadi ayo sebelum itu terjadi kita ikuti ya,

Kemudian di antaranya, yang keempat jangan pernah berhutang dengan niat tidak melunasi, hati-hati, Dari mulai saat itu berniat, sudah dzalim,

Kemudian hendaknya setiap orang punya hutang, dia merasa takut, terbebani terus, Seperti terbebaninya setiap ketemu dengan orang yang menghutanginya, Jangan bermuka tembok, ketemu sama orang yang menghutanginya, tidak sadar tidak paham, Ini bukan menyinggung para wali murid ini,,apalagi kalau hutangnya sama Allah dan Rasulullah, bukan sama Habib Zein,

Ayo dibayar sedikit-sedikit, Kalau tidak mampu, telepon sama Abuya Habib Zein, Insya Allah Abuya Habib Zein itu adalah orang yang punya ilmu,,ya pasti memaklumi, Tapi kalau sama sekali tidak ada apa-apa, diam saja tidak pakai ada kabar, ini yang berbahaya karena, Yang dipinjam ini uangnya Allah dan Rasul-Nya, Habib Zein cuma memangku saja, apalagi uang yang seperti itu tidak bisa dipinjamkan begitu saja, kecuali kalau memang orang ini adalah orang yang berkaitan dengan pondok,

Semoga kita dibebaskan daripada hutang, dan semoga kita semuanya termasuk yang diberikan keluasan seluas-luasnya, sehingga hutang kita semuanya bisa dilunasi, Dan di antara doa yang paling mujarab untuk melunasi hutang itu adalah baca shalawat busyro, Karena sholawat itu baru masih gress, Insya Allah lebih cepat lebih manjur, Waktu baca صلاة تبشرون بها niati supaya terlunasi hutang-hutang kita, apalagi hutang di bank maka cepat lunasi, Kalau tidak, kita lihat, camkan baik-baik ini ada sebuah teori yang sudah saya cantumkan dalam kitab saya, walaupun belum terbit, Apa itu? Setiap orang yang berhutang di bank, tunggulah saatnya dia pasti akan bangkrut, Karena Allah Ta’ala sudah menegaskan dalam Al-Qur’an :

يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَ يُرْبِيْ الصَّدَقَاتِ,

 

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (Al Baqoroh; 276)

Apa artinya محق ? Harta itu dihabiskan sama sekali, bahkan uang pokoknya pun itu akan habis sama sekali gara-gara riba, Jadi kalau mau bertaubat kepada Allah karena ribanya, maka ambil uang pokoknya, selebihnya kita berikan yang sifatnya sosial, Semoga dapat dimengerti dan semoga kita semua dibebaskan daripada segala macam beban dengan manusia terutama hutang piutang, Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin

Ceramah Ustad Segaf Baharun

Apakah itu Taufiq Apakah itu Khudzlan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *