Ustadz Hasan Basri Bersama habib Segaf baharun
Ustadz Hasan Basri Bersama habib Segaf baharun

Ciri Ciri Orang Sholeh

Posted on

MELANDASI SEMUA TINDAKAN DAN UCAPAN DENGAN ISI SYARIAT

Di antara sifat orang sholeh yang paling mendasar adalah dia tidak melakukan suatu tindakan, ucapan, bahkan lintasan dalam hati, kecuali berdasarkan dengan syariat. Dengan kata lain, berdasarkan 4 neraca (pertimbangan). Al-Qur’an, hadits Nabi SAW, maupun Atsaarus Salafissholih (perkataan para Salafunassholih dan tindakan mereka). Begitu pula neraca yang ke-4 adalah kembali kepada hati nurani atau kelayakan dan kepantasan seseorang melakukannya. Dan yang demikian itu berdasarkan firman Allah l:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِينَ )الأعراف : 199 (

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”  (QS. Al’A’rof 7: 199)

Yang dimaksudkan dengan ‘Uruf disini adalah yang jika dilakukan oleh seseorang, maka tidak dianggap sesuatu yang buruk dan dia tidak malu untuk melakukannya. Yang demikian itu dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk melakukan suatu tindakan, perkataan, maupun lintasan yang tidak ada dasarnya dalam kitab, sunnah, maupun perkataan Salafunassholih.

Maka setiap orang sholeh sebelum melakukan suatu tindakan, disodorkan dahulu kepada Al-Qur’an. Jika tidak didapatkan di dalam Al-Qur’an, maka disodorkan kepada hadits. Jika tidak didapatkan di dalam hadits, disodorkan kepada ucapan para Salafunassholih. Dan jika tidak didapatkan juga dari perkataan mereka terkait apa yang dilakukan, maupun yang dikatakannya, disodorkan kepada hati nuraninya juga kepada layak atau tidaknya dia melakukan hal semacam itu di mata manusia.

Begitulah para orang sholeh dalam melaksanakan dan melandasi semua tindakan, ucapan, maupun lintasan hatinya. Mereka tidak serta-merta melihat orang lain melakukan suatu tindakan atau mengucapkan suatu ucapan, langsung ditiru.  Karena bisa jadi tindakan tersebut maupun ucapannya menyalahi syariat atau bahkan termasuk daripada bid’ah yang sesat. Padahal Nabi SAW di dalam suatu hadits bersabda :

لاَ تَقُومُ السَاعَةُ حتى تَصيرَ السُنةُ بدعةً) رواه الطبراني(

“Tidak akan terjadi Hari Kiamat kecuali jika manusia melihat suatu amal sunnah dianggapnya sebagai bid’ah.” (HR. At-Thabrani)

Sehingga jika seseorang itu meninggalkan bid’ah, mereka akan berkata, “Kamu telah meninggalkan sunnah.” Dan yang demikian itu, karena turun temurun mereka melakukan suatu kesalahan tanpa ada dasarnya sehingga mereka menganggap itu adalah sesuatu yang baik padahal itu adalah sesuatu yang buruk atau bid’ah.

Ada pula mereka selain orang-orang sholeh yang melakukan suatu tindakan dan ucapan tanpa dia mengetahui apakah tindakan, ucapan maupun lintasan berdasarkan syariat atau tidak, hanya mengikuti hawa nafsunya atau mengikuti ada istiadat yang berlaku walaupun tanpa ada dasar syariat. Bukankah Nabi Muhammad SAW telah bersabda dalam haditsnya :

عن أنس بْنِ مَالِكٍ قَالَ :عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أنه قالَ طَلَبُ العِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ  )رواه ابن ماجه(

“Mencari ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Para ulama’ mengomentari hadits itu dengan berkata bahwasanya setiap mukallaf tidak boleh melakukan suatu tindakan, ucapan, maupun lintasan sampai dia tahu benar bagaimana hukum Allah di dalam tindakan maupun ucapan tersebut. Dan kadar ilmu yang demikian tidaklah banyak, tidak memerlukan waktu yang lama. Yaitu setiap ilmu yang terkait dengannya sahnya ibadah, muamalah, dan munakahah serta setiap ilmu yang terkait dengan sesuatu yang dilarang maupun diharamkan.

Apalagi Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (النحل : 43)

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 43)

Maka jelas di sini, Allah SWT telah memerintahkan kita semua untuk bertanya dahulu jika berbenturan dengan suatu tindakan dan ucapan yang kita tidak tahu terkait dengan hukumnya. Sehingga kita benar-benar melandasi amal kita baik tindakan maupun ucapan dengan ilmu syariat.

Para ulama terdahulu menghimbau dan menganjurkan para pecintanya dan muridnya untuk selalu terikat dengan kitab dan sunnah serta menjauhi sejauh-jauhnya dari segala macam yang bid’ah. Dan mereka sangat keras dalam hal itu. Sebagaimana diriwayatkan bahwasanya Sayyidina Umar Bin Khotthob RA pernah berkeinginan untuk melakukan suatu perintah, lalu kemudian beberapa sahabat lainnya mengatakan kepadanya bahwasanya Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkan untuk melakukan hal itu. Maka kemudian Sayyidina Umar cepat-cepat menarik kembali perintahnya dan mengurungkan niatnya.

Pernah juga Sayyidina Umar Bin Khotthob RA melarang rakyatnya untuk menggunakan baju yang biasa dia gunakan sebelumnya di era sahabat, dengan dasar bahwasanya baju itu dicelup dengan air kencing binatang. Maka seseorang berkata kepadanya bahwasanya Rasulullah SAW pernah menggunakan pakaian yang seperti itu, bahkan banyak orang menggunakannya pada zaman Nabi SAW. Maka kemudian Sayyidina Umar beristighfar kepada Allah l dan menarik kembali larangan tersebut serta mengurungkan niatnya, dan hanya menerapkan kepada dirinya dan berkata bahwasanya tidak menggunakannya termasuk daripada wara’.

Suatu waktu Imam Ali Zainal Abidin RA berkata kepada anaknya, “Buatkan aku baju yang khusus untuk aku gunakan ketika masuk ke kamar mandi, dan ketika aku akan melaksanakan sholat, maka aku akan mencopotnya. Karena aku melihat banyak lalat yang hinggap pada suatu najis, kemudian dia hinggap ke atas bajuku.” Maka putranya tersebut berkata, “Akan tetapi ayah, yang demikian itu tidak dilakukan oleh Nabi SAW, karena Nabi SAW tidak mempunyai baju kecuali satu. Yaitu baju yang digunakannya untuk ke kamar mandi dan baju itu pula yang digunakannya untuk melaksanakan sholat.” Maka Imam Ali Zainal Abidin menarik kembali perintahnya dan mengurungkan niatnya. Yang demikian itu dilakukan karena berhati-hatinya Imam Ali Zainal Abidin untuk melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW, karena takut sampai terjerumus ke dalam suatu pekerjaan yang bid’ah.

Kesimpulannya, bahwasanya kita sebagai seorang muslim dituntut oleh syariat Islam untuk tidak melakukan suatu perbuatan dan mengucapkan suatu ucapan kecuali berdasarkan syariat yang bemerasaskan kepada Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijma’ para ulama’. Dan jangan sampai kita menduga atau menganggap bahwasanya ada suatu tindakan, ucapan yang tidak diuraikan atau dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan di dalam haditsnya :

عن أبي هريرة رضي الله عنه: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم:  تَرَكْتُكُم عَلَى  مَحَجَّةِ الْبَيْضَاء لَيَالِيها كَنَهَارِها لاَ يُزِيْغُ عَنْهَا إلاَّ ضَالٌّ )رواه ابن ماجه(

“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan agama ini sangat terang benderang bagaikan batu yang putih bersih tidak ada noda. Maka tidak ada seorang pun yang berpaling dari jalan itu, kecuali dia akan sesat.” (HR. Ibnu Majah)

Begitu pula dalam hadits lain Nabi SAW bersabda :

النَاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا  الْعَالِمُوْنَ ، وَ الْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ ، وَ العَامِلُونَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلاَّ الْمُخْلِصُونَ، وَالْمُخْلِصُونَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ )متّفق عليه(

“Semua manusia akan binasa, kecuali orang yang berilmu. Dan semua orang yang berilmu akan binasa, kecuali orang yang mengamalkan dengan ilmunya. Dan semua orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa, kecuali bagi yang ikhlas dalam amalnya. Dan orang yang ikhlas dalam amalnya pun dalam keadaan berbahaya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Maka jelas dengan hadits tersebut di atas, bahwasanya jika tindak-tanduk kita tidak didasari dan dilandasi oleh syariat, maka lebih banyak menjerumuskan kepada dosa dan noda. Dan hampir dikatakan mustahil seseorang tanpa ilmu syariat akan selamat dari tuntutan Allah dan Rasul-Nya di akhirat nanti. Oleh karena itu, tidak mungkin kita itu akan melandasi semua tindakan dan ucapan dengan syariat, kecuali jika kita belajar. Baik dengan kita itu belajar di pesantren, ataupun pernah belajar di madmerasah diniyah, begitu pula  kita mengikuti majelis-majelis para ulama’ dan menghadirinya, serta tidak jauh dari para ulama’ sehingga kita bukan termasuk orang-orang yang binasa sebagaimana tersebut dalam hadits tadi.

Dan semoga kaum muslimin semuanya, saudara-saudara kita, handai taulan, kerabat, maupun keturunan kita semuanya termasuk yang melandasi semua tindak-tanduknya dengan ilmu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Aamiin Aamiin Ya Robbal ’Alamiin…

TIDAK MUDAH BERFATWA DAN MENGAJARKAN SUATU AJARAN KEPADA ORANG LAIN

 

Di antara sifat orang-orang sholeh, dia sangat berhati hati di dalam memberikan suatu fatwa apalagi sampai mengajarkan suatu ilmu tanpa didasari ilmu yang dipelajari dari guru-guru yang mumpuni di bidangnya, dan mendapatkan ijazah serta mendapatkan izin langsung dari gurunya untuk memberikan fatwa maupun mengajarkannya. Di mana di antara kebiasaan para ulama’ terdahulu, mereka tidak mengajar bahkan tidak memberikan fatwa, kecuali setelah mereka mendalami sedalam-dalamnya terkait dengan ilmu syariat. Dengan kata lain, mereka mengetahui apa yang diajarkannya dan apa yang difatwakannya dengan dasar dalil-dalil yang dibawa oleh madzhab yang empat atau paling sedikit dengan madzhab yang dia tekuni atau dia lazimi. Sehingga mereka tidak memberikan fatwa, kecuali seperti perkataan seseorang di antara kita pada siang hari ketika ditanya, “Apakah sekarang siang ataukah malam?” Maka dengan mantab dan meyakinkan dia mengatakan, “Sekarang adalah siang.”

Jika dia mendapati fatwa yang akan di fatwakannya, jawaban yang akan suatu pertanyaan seperti jawabannya ketika menjawab siang ataukah malam hari, barulah dia akan memberikan fatwanya tersebut maupun menjawab pertanyaan itu.

Imam Malik RA pernah ditanyakan tentang 10 pertanyaan. Sembilan pertanyaan dia menjawab dengan jawaban ‘Wallahu A’lam’, sementara hanya satu yang dia jawab dengan ilmunya. Sehingga dia tidak menjawab sembilan pertanyaan tersisa, kecuali setelah muthola’ah dan bertanya kepada yang lebih tahu.

Berbeda dengan zaman sekarang ini, di mana banyak ustadz-ustadz dadakan dan mufti-mufti musiman yang bukan ahlinya dipanggilnya ustad, yang bukan di bidangnya dikatakan pakar. Sehingga kita dapatkan, ada seseorang yang basicnya sebagai pelawak ataupun sebagai anggota legislatif dan pejabat, tiba-tiba dalam waktu yang singkat sudah merubah dirinya menjadi seorang ustadz atau seorang da’i. Inilah zaman yang dinamakan oleh Nabi SAW dalam hadits yang berbunyi :

سَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ كَثِيْرٌ خُطَبَائُهُ قَلِيْلُ فُقَهَاؤُه )رواه البخارى(

“Bakal datang pada kalian suatu zaman di mana pada zaman itu banyak ahli pidatonya, tapi sedikit para Fuqoha’nya (orang alimnya).” (HR. Bukhori)

Oleh karena itu, di sini harus dibedakan antara da’i dengan orang alim. Setiap da’i belum tentu dia alim, dan setiap orang alim pasti dia seorang da’i. Karena arti da’i di sini adalah mengajak manusia dan berseru kepada mereka menuju ke jalan kebaikan dan menjelaskan kepada mereka tentang isi syariat yang sebenarnya. Sedangkan para ulama’ yang mengerti dalam ilmu agama itu, mereka sangat tahu dan paham dengan ucapannya. Baik dia yang berdiri di atas mimbar maupun hanya majelis yang diadakannya, begitu pula di dalam buku-buku yang dikarangnya. Berbeda dengan seorang orator yang hanya berseru dari atas mimbar. Bisa jadi dia memang seorang orator ulung, tetapi dia tidak membidangi di dalam  agama. Berapa banyak mereka yang ahli orator, tetapi dia bukan seorang alim. Bahkan banyaknya ahli pidato dan orator yang semacam itu merupakan sebuah pertanda akan dekatnya hari kiamat sebagaimana tersebut dalam hadits di atas.

Imam Junaid RA, seorang alim, sufi yang telah memprakarsai ilmu tasawwuf, suatu waktu dia diperintahkan oleh gurunya untuk mengajar dan memulai memberikan fatwa. Maka beliau dengan cara yang baik dan halus menolaknya. Beliau berkata kepada gurunya, “Wahai guru, aku takut untuk memberikan pelajaran dan fatwa karena tiga ayat berikut ini.” Kemudian dia membaca ayat-ayat tersebut, yaitu :

وَمَا أُرِيدُ أَن أُخَالِفَكُم إلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْه )هود : 88(

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud : 88)

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ  )الصاف 61: 3(

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Hud 61 : 3)

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ  )البقرة : 44(

“Kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

Maka kemudian setelah gurunya mendengarkan alasan daripada Imam Junaid, dia membiarkannya dan tidak memaksanya. Sehingga kemudian, sesaat setelah itu dia datang kembali kepada gurunya dan berkata, “Guru, aku siap untuk mengajar dan menggantikanmu untuk mengajar di dalam masjid.” Maka gurunya tersebut berkata kepadanya, “Kenapa tidak sejak tadi engkau menyanggupinya, kok baru sekarang?” Imam Junaid menjawab, “Iya, tadi aku telah bermimpi Nabi SAW dan beliau memerintahkanku untuk mengajar dan menggantikanmu.” Maka gurunya berkata, “Masya Allah engkau Junaid, Engkau tidak mengajar sampai Nabi SAW sendiri yang memerintahkanmu.”

Berkata Imam Sya’roni, “Pernah suatu waktu aku mengetahui seseorang yang dia itu mengajar terkait dengan ilmu tasawwuf, ilmu bathin, dan ilmu hakikat, yang berbicara tentang fana’ dan baqa’. Suatu waktu, dia mengikutiku dan melazimi pelajaranku. Maka aku memanggilnya dan bertanya kepadanya, “Apakah syarat sahnya wudhu’ dan syarat sahnya sholat?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah belajar ilmu terkait dengan fiqih.” Lalu aku katakan kepadanya, “Wahai saudaraku, ketahuilah bahwasanya ibadah itu harus berlandaskan kepada kitab dan sunnah. Dan melandasinya serta mendasarinya dengan kitab dan sunnah itu adalah suatu perkara yang wajib menurut semua para ulama’. Sehingga jika seseorang tidak bisa membedakan antara perkara yang wajib dengan yang sunnah, yang harom dengan yang makruh, maka dia adalah seorang yang bodoh, dan orang yang bodoh itu tidak boleh diikuti, ditauladani. Baik dalam jalan yang zhohir (ilmu syariat) apalagi jalan yang bathin (ilmu hakikat).” Maka orang tersebut diam seribu bahasa dan tidak membantahku. Akan tetapi, kemudian dia meninggalkan majelisku dan selalu menghindariku.

Apalagi bahaya di dalam memberikan fatwa tanpa meyakini kebenarannya itu sangat berbahaya, berdasarkan firman Allah SWT dan hadits-hadits berikut ini :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا )الإسراء  17 : 36(

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’ 17 : 36)

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ )الأعراف 7 : 33(

“Katakanlah (wahai Muhammad):  “Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan juga mengharamkan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) jika kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan), jika kamu  mengada-adakan atas nama Allah apa yang tidak kamu ketahui.”” (QS. Al-A’rof 7 : 33)

Nabi SAW bersabda :

أَجْرَؤُكُمْ عَلَى الفَتْوَى أَجْرَؤُكُمْ عَلَى النَّار )رواه الدارمي(

“Paling cepat kalian memberi fatwa adalah paling cepatnya kalian masuk ke dalam neraka.” (HR. Ad-Daromi)

Wallahu A’lam..

 

 

SELALU BERPASRAH KEPADA ALLAH SWT DALAM URUSAN MEREKA TERKAIT DENGAN ANAK-ANAK, KELUARGA, MAUPUN YANG LAINNYA

 

Sifat berpasrah diri kepada Allah SWT adalah sifat orang sholeh, karena memang yang berkehendak dalam  alam jagad raya ini adalah Allah SWT. Tidak seorang manusia yang berkehendak dengan kehendaknya sendiri, kecuali beriringan dengan kehendak Allah. Baik yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesengsaraan, kemudahan dan kesulitan, kelanggengan maupun keretakan, semua itu datangnya dari Allah. Sehingga seorang yang sholeh itu meyakini karena segala sesuatu itu datangnya dari Allah, maka tidak ada solusi serta harapan untuk menggapainya, kecuali dengan berpasrah diri kepada-Nya. Termasuk di antara yang harus dipasrahkan kepada Allah adalah memasrahkan semua urusan dirinya, anak-anak dan pendidikannya, dan semua hal yang berada di bawah tanggung jawabnya. Karena hanya Allah-lah yang memberikan hidayah, hanya Allah-lah yang menunjukkan kebenaran, dan hanya Allah pulalah yang memberikan segala macam karunia. Sehingga mereka yang memasrahkan urusannya dan keluarga serta anak-anaknya dan bersandar kepada Allah sepenuhnya, mereka akan dapati urusannya, keluarga dan anak-anaknya, seperti yang diharapkan dan dicita-citakannya. Sebaliknya, mereka yang bersandar kepada usaha dan upayanya, serta ilmu dan kepintarannya, maka tidak akan menggapai harapan dan cita-citanya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Sya’roni, “Aku mempunyai seorang putra yang bernama Abdurrahman. Tidak ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk mencari ilmu, dan aku sangat menyesali akan hal itu. Padahal aku berusaha dan berupaya untuk hal itu. Sehingga terlintas dalam hatiku dengan iringan karunia daripada Allah l untuk memasrahkan perkara anakku tersebut kepada-Nya.  Lalu aku pasrah kepada Allah terkait dengannya. Dan tiba-tiba pada pagi harinya setelah malam tersebut, anakku itu sudah berubah keadaannya menjadi rajin dalam muthola’ah dan mencari ilmu tanpa ada sedikit pun  perintah dariku bahkan dia telah merasakan nikmatnya mempelajari ilmu dari mulai saat itu hingga sekarang ini. Dan pemahamannya terkait dengan ilmu yang dipelajarinya melebihi dari pemahaman orang-orang yang sebaya dengannya. Maka segala puji bagi Allah yang telah melepaskan segala keresahanku terkait dengan anakku dan hal itu aku raih sebab  berpasrah diri kepada-Nya.”

 

  1. Jaminan untuk Anak-Anak Para Ulama’ dan Para Sholihin
  • Berkata Ali Al-Khawwas RA terkait dengan pendidikan dan keberhasilan anak-anak daripada para ulama’ maupun para solihin, “Tidak ada yang lebih manfaat bagi mereka selain daripada berdoa untuk mereka yang dilakukan bukan di depan mereka serta memasrahkan mereka kepada Allah.”

Yang demikian itu karena anak-anak para ulama’ maupun para sholihin, mereka secara tidak langsung telah mendapatkan pendidikan dari lingkungannya dengan apa yang mereka saksikan dan yang mereka lihat daripada ayah mereka, ditambah dengan didikan ibunya jika memang dia seorang pendidik dan wanita sholihah. Bahkan cukup dianggap sebagai pendidikan untuk mereka, keadaan bagaimana masyarakat menghormati dan memuliakan ayahnya, karena yang demikian itu akan memproses pada dirinya untuk terbentuk dengan bentuk seperti ayahnya.

Karena yang namanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,  begitu pula seseorang tidaklah akan jauh dari pengaruh lingkungannya. Sehingga yang demikian itu akan menjadikannya banyak berpasrah kepada dirinya, dan menyebabkan kemalasan, serta ketergantungan pada kemuliaan ayahnya.

Maka solusi bagi para ulama’ dan para sholihin terkait dengan anak-anak mereka tersebut adalah lebih banyak berpasrah diri kepada Allah melebihi pasrahnya orang-orang awam terhadap anak-anaknya.

Akan tetapi yang pasti, keadaan orangtua mereka akan membentuk kepribadian sebagai ulama’ dan sebagai orang sholeh, ditambah pasrahnya orang alim dan orang sholeh tersebut kepada Allah terkait dengan anak-anaknya. Maka yang demikian itu, akan lebih memudahkan anak-anaknya untuk menjadi orang alim bahkan lebih baik daripada mereka.

Berbeda dengan mereka para anak-anak orang awam, mereka sadar diri bahwasanya mereka tidak akan menghasilkan kemuliaan, kecuali dengan usaha yang alot, dan upaya yang gigih. Dan bahwasanya mereka tidak akan terlepas dari belenggu kehinaan dan kerendahan daripada orang atasan dari pejabat maupun orang yang kaya, kecuali dengan petunjuk dari Allah SWT untuk menyibukkan diri dengan ilmu dan Al-Qur’an.

Sehingga tatkala banyak masyarakat yang menghormatinya karena ilmu dan Al-Qur’annya, maka akan bertambah pula keinginan dan dorongan untuk menguatkan keilmuannya dan berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih manfaat lagi, supaya dia mendapatkan karunia yang lebih daripada jalannya tersebut.

  • Berkata Syaikh Ahmad Az-Zahid RA kepada putranya ketika dia membiasakan anaknya tersebut untuk melaksanakan khulwah selama 40 hari, maka saat itulah dia berkata pada anaknya, “Wahai anakku, jika seumpama urusan karunia Allah itu berada di tanganku, maka aku tidak akan mendahulukan orang lain terhadapmu. Akan tetapi semua itu tidak akan datang kepadamu, kecuali dengan usaha dari dirimu sendiri serta banyak berpasrah pada Allah yang menciptakannya.”

Kesimpulannya, bahwasanya didikan saja untuk meluruskan dan menjadikan akhlak seorang anak itu tidaklah cukup. Akan tetapi, harus diiringi dengan berpasrah diri kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, serta memohon hidayah untuk mereka. Dengan begitu, maka harapan yang ada di dalam hati orangtua terhadap anaknya akan terlaksana sesuai dengan harapannya.

Semoga Allah SWT menjaga anak-anak dan keturunan kita serta anak-anak kaum muslimin semuanya supaya mereka senantiasa mendapat hidayah daripada Allah SWT dan terdidik akhlaknya sesuai dengan harapan dan anjuran serta ajaran Nabi kita Muhammad SAW.

Aamiin Ya Mujiibassa’iliin…

 

 

SELALU IKHLAS DALAM ILMU DAN BERAMAL  SERTA MENGHINDARI RIYA’

 

Ikhlas adalah melaksanakan suatu tindakan atau ucapan hanya karena Allah, karena mengharap ridho-Nya, atau melaksanakan perintah-Nya, atau berusaha untuk meraih cinta dan perhatian-Nya. Sedangkan riya’ adalah melakukan suatu tindakan atau ucapan bukan karena Allah. Di antara ciri-ciri orang-orang sholeh adalah mereka tidak melakukan suatu tindakan maupun ucapan, kecuali didasari dengan ikhlas, dilakukan hanya karena Allah, dan tidak ada tujuan sedikit pun untuk mendapatkan harta benda dunia, perhatian, maupun sebutan dan banggaan dari para manusia.

 

  1. Bahaya Orang yang Melandasi Tindakan Maupun Ucapan dengan Riya’

Seseorang yang melaksanakan segala tindakan maupun ucapan tanpa dilandasi dengan ikhlas, maka dia hanya akan mendapatkan merasa penat dan capai serta semua tindakan dan ucapannya tersebut akan menjadi sia-sia dan tiada guna, karena yang bisa memberikan suatu balasan berupa kebaikan, anugerah, kebahagiaan, dan lain-lain hanyalah Allah. Sedangkan manusia tidak mampu untuk melakukan suatu apapun dari hal itu.

Apalagi di dalam melandasi suatu tindakan maupun ucapan dengan riya’ sangatlah berbahaya kepada pelakunya, baik terkait dengan tidak diterimanya amalnya maupun bahaya akan berlaku kepadanya kelak nanti di akhirat. Sebagaimana hadits-hadits dan perkataan Salafunassholih berikut ini :

النَاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا  الْعَالِمُوْنَ ، وَ الْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ ، وَ العَامِلُونَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلاَّ الْمُخْلِصُونَ، وَالْمُخْلِصُونَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ )متفق عليه(

“Semua manusia akan binasa, kecuali yang mengetahui dengan ilmu agama. Dan orang yang mengetahui ilmu agama akan binasa, kecuali bagi orang yang mengamalkannya. Dan semua orang yang mengamalkan ilmu agama akan binasa, kecuali bagi yang melandasinya dengan dasar ikhlas. Dan semua yang melandasi amal-amalnya dengan ikhlas pun masih dalam keadaan berbahaya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

لَمَّا خَلَقَ اللهُ عَزَّ و جَلَّ جَنَّةَ عَدْنٍ خَلَقَ فِيهَا مَا لَا عَينٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَر على قَلبِ بَشَرٍ ثُمَّ قَالَ لَهَا: تَكَلَّمِى. فَقَالَت: قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ ثَلاَثًا, ثُمَّ قَالَتْ : أَنَا حَرَامٌ عَلَى كُلِّ بَخِيْلٍ وَ مُرَائٍ )رواه الطبراني(

“Tatkala Allah menciptakan surga ‘Adn, maka Allah menciptakan di dalamnya segala macam kenikmatan yang tidak pernah dipandang oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, serta tidak pernah terlintas sekali pun di dalam hati seorang manusia. Maka Allah l berkata kepadanya, “Berbicaralah!” Maka surga ‘Adn itu berbicara, “Telah beruntung bagi orang mu’min,” tiga kali, lalu dia meneruskannya, “Dan aku harom dimasuki oleh mereka yang bakhil dan mereka yang melakukan suatu tindakan maupun ucapan dengan dasar riya’.” (HR. At-Thabrani)

  • Berkata Wahab Bin Munabbih RA, “Barang siapa yang mencari dunia dengan pekerjaan akhirat, maka Allah akan membalikkan hatinya, dan Allah akan menulis namanya di deretan para penghuni neraka.”
  • Berkata Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimallahu l, “Telah berkata kepadaku ibuku, “Wahai anakku, janganlah engkau belajar ilmu kecuali jika kamu berniat untuk mengamalkannya karena Allah. Dan jika tidak, maka ilmu yang kamu pelajari itu merupakan suatu beban kepadamu kelak pada hari kiamat.”
  • Berkata seseorang kepada Dzinnun Al-Mishri RA, “Kapankah seorang hamba mengetahui bahwa dirinya termasuk daripada seorang yang mukhlis?” Maka dijawab olehnya, “Jika dia berusaha dan berupaya sebisa mungkin untuk melaksanakan sebuah ketaatan, tapi dia itu merasa senang jika seumpama kedudukannya jatuh di mata manusia.”
  • Berkata Muhammad Bin Munkadir RA, “Aku sangat ingin kepada suadara-sudaraku untuk menampakkan keadaan yang bagus darinya pada malam hari. Karena jika seseorang menampakkan kelakuan yang baik pada siang hari, maka semua orang akan melihatnya. Adapun jika seseorang menampakkan kelakuan baiknya pada malam hari, maka tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah SWT.”
  • Berkata seseorang kepada Yahya Bin Mu’adz RA, “Kapankah seorang hamba itu dianggap sebagai orang yang mukhlis?” Maka dijawab olehnya, “Jika seseorang itu kelakuannya sama seperti kelakuan anak yang sedang menyusu. Dia tidak peduli siapapun yang memujinya ataupun mencelanya. Tetap saja anak itu menyusu dan tidak peduli kepada ucapan mereka.”
  • Diriwayatkan bahwasanya Abu Abdillah Al-Anthoqi RA, dia berkata, “Jika nanti pada hari kiamat, Allah SWT akan berkata kepada orang yang melakukan riya’, “Ambillah pahala amalmu dari orang yang kamu riya’ kepadanya!” Dan berkata pula dia bahwasanya, “Orang yang mencari dengan keikhlasan di dalam amalnya yang zhohir, sementara dia selalu memperhatikan manusia dengan hatinya, maka berarti dia telah berangan-angan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Karena keikhlasan itu bagaikan air dari hati manusia yang akan hidup dengannya, sedangkan riya’ justru mematikan hati tersebut.”
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh RA, “Selama seseorang merasa senang dengan manusia, maka akan sulit sekali dia selamat dari riya’.”
  • Berkata Abu Abdillah Al-Anthoqi bahwasanya, “Orang yang berhias dan menampakkan bagus amalnya kepada manusia biasanya tidak terlepas dari tiga orang. Pertama, dia itu yang memperbagus dirinya dengan ilmu. Yang kedua, memperbagus dirinya dengan tindakan amal. Dan yang ketiga, memperbagus dirinya dengan meninggalkan perhiasan dan kemewahan, dan yang ketiga ini adalah yang paling rendah dan paling dicintai oleh setan.”
  • Berkata Ibrahim Bin Adham RA, “Jangan kamu bertanya dengan saudara kamu tentang keadaannya ketika dia berpuasa. Karena sesungguhnya jika dia menjawab, “Aku sedang berpuasa,” maka nafsunya akan senang karenanya. Tapi kalau dia menjawab, “Tidak, aku sedang tidak berpuasa,” maka nafsunya akan menjadi sedih karenanya. Dan keduanya itu menandakan bahwasanya dirinya melakukannya dengan riya’. Yang demikian itu akan menyebabkannya tertekan dan terbelenggu dengan suatu keadaan yang menyulitkannya, sehingga tidaklah perlu kita bertanya terkait dengan ibadah seseorang.”

 

  1. Perkataan Para Salafunassholih dan Hikayat Mereka Terkait dengan Ikhlas dan Riya’
  • Berkata Abu Sulaiman Ad-Daroni RA, “Setiap amal yang dilakukan oleh seorang mu’min daripada amalan-amalan islami, lalu tidak diniati, maka cukup sesungguhnya niatnya sebagai seorang muslim di dalamnya.”
  • Berkata Ibrahim Bin Adham RA, “Tidak dianggap seseorang itu bertaqwa kepada Allah, jika ia menginginkan dirinya disebut dengan kebaikan, dan orang yang semacam itu tidaklah ikhlas di dalam amalnya.”
  • Berkata Imam Hasan Al-Bashri RA, “Penghuni surga dimasukkan ke dalam surga, begitu pula penghuni neraka dimasukkan ke dalam neraka, karena amal mereka. Sedangkan keabadian mereka di dalamnya, tergantung kepada niat mereka masing-masing.”
  • Suatu waktu, Imam Dawud Ath-Tho’i dia memakai baju dalam keadaan terbalik, lalu mereka berkata kepadanya, “Apakah engkau tidak merubahnya?” Maka ia menjawab, “Aku memakainya karena Allah SWT, maka aku tidak akan merubah niatku.” Yang demikian itu dikatakannya karena ia takut sampai terjerumus ke dalam riya’, karena dengan dia merubah cara pemakaian bajunya dianggap melakukannya dengan dasar riya’.
  • Berkata Imam Ali karromallahu wajhah, “Seseorang yang melakukan riya’ ada tiga tanda pada dirinya. Tanda pertama, dia malas beribadah ketika dalam keadaan sendiri, akan tetapi jika di hadapan orang lain, maka ia akan tampak seakan-akan ia giat beribadah. Tanda kedua, jika dalam keadaan sendiri ia melakukan sholat sunnah dengan cara duduk, dan jika di hadapan orang lain, ia melakukannya dengan cara berdiri. Sedangkan tanda ketiga, dia bertambah semangat melakukan amalan tatkala manusia memujinya dan berkurang amalnya tatkala melihat manusia mencelanya.”
  • Berkata Sufyan Ats-Tsauri RA, “Setiap amal perbuatan yang aku lakukan di hadapan orang lain, aku tidak menganggap hal itu sebuah amal kebaikan, karena orang seperti kita sulit untuk melakukan keikhlasan di depan manusia.”
  • Suatu waktu, Imam Hasan Al-Bashri datang kepada Imam Thowus RA, pada saat Imam Thowus sedang mengajarkan hadits-hadits Nabi SAW di Masjidil Harom, dalam suatu majelis yang ramai para hadirinnya. Maka Imam Hasan Bashri mendekatinya seraya berkata dengan berbisik kepadanya, “Jika kamu merasa ‘ujub dengan majelismu ini, maka berdirilah dan tinggalkan majelis ini.” Maka Imam Thowus langsung berdiri dan meninggalkan majelisnya.

Begitulah mereka para ulama’ terdahulu saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya dan tidak merasa tersinggung dengan ucapan orang yang memberi nasehat kepadanya.

  • Suatu hari, Ibrahim Bin Adham melalui majelis milik Qisyro Al-Hafizh RA, maka ia kemudian mengingkari akan kebesaran majelisnya tersebut dan berkata, “Jika seumpama majelis semacam ini terjadi dan dialami oleh salah satu dari sahabat Nabi SAW, niscaya ia pun akan sulit menghindarkan dirinya daripada ‘ujub, apalagi orang-orang awam seperti kita.”
  • Diriwayatkan bahwasanya Sufyan Ats-Tsauri RA tidak membiarkan orang lain belajar kepadanya kecuali hanya tiga orang. Hingga suatu waktu ia mendapati majelisnya ramai dikunjungi oleh banyak orang, maka ia berdiri dalam keadaan takut dan wajahnya pucat, dan berkata, “Sungguh Allah telah memberikan aku ‘adzab dengan hal ini dan demi Allah aku tidak merasakannya sama sekali. Jika seumpama apa yang ada di sini terjadi pada Amiirul Mu’minin Umar Bin Khotthob RA, maka ia pasti akan meninggalkan majelis semacam ini dan bisa saja ia berkata kepadaku, “Majelis ini tidak layak untukmu.” Yang demikian dikatakannya karena merasa takutnya kepada Allah sampai hal itu akan menjerumuskannya ke dalam sifat ‘ujub dan riya’.
  • Diriwayatkan bahwasanya Bisyr Al-Hafi, jika dia sedang duduk mengajarkan dan membawakan satu demi satu hadits-hadits Nabi, beliau duduk dalam keadaan ketakutan. Dan tatkala ia sedang mengajar, lalu berlalu sebuah awan di atasnya, maka dia akan diam mendadak dalam keadaan wajahnya sangat pucat, dan ia berkata, “Aku takut di balik awan yang lewat itu terdapat batu-batu yang akan diturunkan sebagai adzab dari Allah SWT untuk kita dan itu semua disebabkan olehku.”
  • Berkata sahabat Abu Hurairah RA, “Kalau bukan karena ayat yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, maka aku tidak akan menyampaikan hadits-hadits Nabi SAW kepada kalian, yaitu ayat :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْـزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى ) البقرة : 159(

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk,” (QS. Al-Baqarah : 159)

  • Berkata seseorang kepada Sufyan Bin Uyainah RA, “Tidak maukah engkau duduk bersama kami, lalu engkau mengajarkan kepada kami ajaran-ajaran dan isi dari syariat?” Maka dia menjawab, “Demi Allah, aku tidak melihat pada diri kalian terdapat keahlian untuk aku berdiskusi dan berbicara kepada kalian, dan aku sama sekali tidak melihat pada diriku termasuk yang ahli sehingga kalian berhak mendengarkan dariku. Perumpamaan yang sesungguhnya antara diriku dengan kalian adalah seperti perkataan seseorang, “Mereka telah sama-sama menampakkan belangnya, kemudian mereka berdamai karenanya.”
  • Sahabat Abdullah Bin Abbas RA dengan keagungan dan keluasan ilmunya, setiap kali dia selesai mengajar ilmu tafsir, maka ia berkata, “Akhirilah majelis ini dengan memperbanyak istighfar.”
  • Berkata Syaddad Bin Hakim RA, “Barang siapa yang ada pada dirinya tiga perkara, maka dia berhak untuk mengajar manusia. Dan jika tidak ada pada dirinya tiga perkara ini, maka dia tidak berhak untuk mengajar mereka. Yang pertama adalah mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah sehingga mereka mensyukurinya. Yang kedua, mengingatkan mereka dengan dosa-dosa mereka sehingga mereka bertaubat darinya. Yang ketiga, mengingatkan mereka dengan musuh mereka, yaitu iblis, supaya mereka waspada darinya.”
  • Berkata Abdullah Bin Wahab RA, “Aku pernah bertanya kepada Imam Malik RA terkait dengan siapa yang dimaksud Rosikhuna Fil’ilmi. Maka dijawab olehnya, “Mereka adalah orang yang mengamalkan dengan ilmunya. Dan tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, karena orang yang memiliki ilmu dapat menghakimi para raja.”
  • Berkata seseorang kepada Abdullah Bin Mubarok RA, “Siapakah sesungguhnya manusia yang dipandang sebagai manusia yang baik?” Maka dia menjawab, “Para ulama’ yang mengamalkan ilmunya dan ikhlas dalam amalnya.” Maka ditanyakan lagi, “Siapakah yang engkau anggap sebagai raja?” Dia menjawab, “Orang-orang yang zuhud dalam dunia.” Lalu ditanyakan lagi, “Siapakah orang-orang rendahan di antara manusia?” Maka dia menjawab, “Mereka adalah yang mencari dunia dengan ilmu dan amal, serta agamanya.”

 

  1. Perbedaan Antara Ulama’ Sholeh dengan Ulama’ Suu’
  • Dalam hadits Nabi SAW bersabda :

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهُ بِعِلْمِه )رواه الطبراني(

“Paling pedihnya adzab kelak pada hari Kiamat adalah orang ‘alim yang ilmunya tidak bermanfaat (yang tidak mengamalkan ilmunya sesuai dengan tuntutannya).” (HR. At-Thabrani)

  • Berkata sahabat Abdullah Bin Mas’ud RA, “Barang siapa yang berfatwa terkait dengan suatu permasalahan manusia tanpa meneliti ilmunya terlebih dahulu, dan tanpa merenungi dan meyakini akan hukumnya, maka berarti dia telah menyodorkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka. Dan barang siapa yang berfatwa setiap kali ditanyakan oleh seseorang, maka sesungguhnya ia adalah orang gila.”
  • Berkata Imam Hasan Al-Bashri RA, “Janganlah kamu menjadi seseorang yang lemah, tapi berlaku seperti orang-orang yang bodoh.”
  • Berkata Sayyidina Isa AS, “Berapa banyak ilmu, akan tetapi tidak semuanya bermanfaat? Berapa banyak para ulama’, akan tetapi tidak semuanya mendapatkan petunjuk?”
  • Berkata Ibrahim Bin Atbah RA, “Paling menyesalnya manusia pada hari kiamat kelak adalah orang alim yang merasa agung karena ilmunya.”
  • Berkata Amiirul Mu’minin Umar Bin Khotthob RA, “Di antara yang paling aku takuti terhadap umat ini adalah orang yang pintar dengan lidahnya, tapi bodoh terkait dengan hatinya.”
  • Berkata Sufyan Ats-Tsauri RA, “Ilmu itu selalu menuntut pemiliknya untuk mengamalkannya. Jika dia mengamalkannya, maka akan datang cahaya dari ilmu tersebut. Dan jika tidak diiringi dengan amal, maka cahaya ilmu itu akan lari darinya, sehingga yang tersisa padanya hanyalah bentuknya.”
  • Berkata Abdullah Bin Mubarak RA, “Seseorang itu dianggap sebagai orang alim, jika ia menyangka bahwa di kotanya ada seseorang yang lebih alim darinya. Akan tetapi, jika dia menyangka bahwa dirinya adalah yang paling alim, maka sesungguhnya dia adalah orang yang bodoh.”

 

  1. Adab Orang Alim yang Sholeh

Terdapat beberapa adab dari para ulama’ yang sholeh, di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Berkata Imam Asy-Syu’bi RA, “Termasuk daripada adab para ulama’, jika dia mengetahui sesuatu, maka dia langsung mengamalkannya. Dan jika dia mengamalkan ilmunya, maka dia akan sibuk karenanya, sehingga dia tidak memperdulikan manusia. Dan jika dia sibuk di dalam suatu amal, maka dia akan sulit ditemui. Dan jika dia sulit ditemui, maka dia akan dicari manusia. Dan jika manusia mencari mereka, mereka akan berlari menjauhinya, karena takut pada diri mereka dan untuk menyelamatkan agamanya dari fitnah.”
  • Imam Hasan Al-Bashri RA berkata, “Aku menangis melihat nasib orang alim, jika aku melihat dunia telah mempermainkannya. Dan jika seorang yang ahli Al-Qur’an dan hadits mempunyai kesabaran, maka pasti ia akan zuhud pada dunia. Alangkah jeleknya seorang yang alim itu dikatakan, “Fulan yang alim atau ahli ibadah itu, ia melaksanakan ibadah haji karena diberangkatkan oleh fulan yang kaya.”.”
  • Berkata Ziyad Bin Mu’adz RA, “Jika seorang alim mencari dunia, maka akan hilang auranya.”
  • Berkata Imam Hasan Al-Bashri RA, “Siksa bagi ulama’ jika dia tidak mengamalkan ilmunya, maka akan mati hatinya. Dan kematian hatinya diketahui jika mereka sibuk mencari dunia dengan ilmunya, sehingga dengan ilmunya dia mendekatkan diri dan berusaha mencari simpati dengan orang-orang kaya.”
  • Berkata Said Bin Musayyib RA, “Jika kamu melihat orang alim yang selalu masuk ke rumah para pejabat, maka ketahuilah dia adalah seorang pencuri.”
  • Berkata Makhul RA, “Barang siapa yang memahami Al-Qur’an dan memperdalam agama, lalu ia datang ke dalam rumah-rumah pejabat tanpa ada hajat yang darurat, maka ia telah berdiri di tepian Jahannam dan mendekatinya dengan kadar langkah-langkah yang telah digunakannya untuk mendekati mereka.”
  • Berkata Malik Bin Dinar RA, “Aku telah membaca di sebagian kitab yang telah Allah turunkan kepada para Nabi-Nya dahulu, Allah SWT berfirman, “Paling sedikit yang Aku lakukan terhadap orang alim yang mencari dunia dengan ilmunya adalah Aku haramkan atasnya kelezatan bermunajat dengan-Ku.”.”
  • Berkata Amiirul Mu’minin Umar bin Khotthob RA, “Jika kamu melihat orang alim yang senang kepada dunia, maka curigailah dia atas agamanya. Karena setiap orang yang cinta itu selalu tenggelam terkait dengan sesuatu yang dicintainya.”
  • Berkata Imam Hasan Al-Bashri RA, “Alangkah mengherankan bagiku, seseorang yang mempunyai lidah yang pandai bersilat dan hati yang sangat mengetahui, tapi amalnya tidak sesuai dengan perkataan dan hatinya.”
  • Berkata Hatim Al-‘Ashom RA, “Paling celakanya manusia pada hari kiamat kelak adalah orang alim yang banyak orang mengamalkan dengan ilmunya, akan tetapi ia sendiri tidak mengamalkannya.”
  • Berkata Abdurrahim At-Taimi RA, “Tidak pernah aku sodorkan ucapanku terhadap amalku, kecuali pasti aku dapatkan amalku membohongi perkataanku.”
  • Berkata Sayyidina Isa AS, “Perumpamaan bagi mereka yang mengetahui ilmu, tapi tidak mengamalkannya, bagaikan seorang wanita yang berzina secara diam-diam, lalu dia hamil sehingga banyak orang mengetahuinya. Begitu pula orang yang tidak mengamalkan dengan ilmunya, Allah SWT akan mempermalukannya di depan seluruh manusia pada hari kiamat.”
  • Jika Amiirul Mu’minin Umar Bin Khotthob RA, ia melihat seseorang yang tertunduk kepalanya di dalam sholatnya, maka ia memukulnya dengan tongkatnya, dan berkata kepadanya, “Celakalah engkau! Ketahuilah bahwasanya kekhusyu’an itu berada di dalam hati, bukan hanya dalam gerakan badan.”
  • Suatu waktu, Abu Umamah RA melewati seseorang yang sedang sujud dalam keadaan menangis, maka ia berkata kepadanya, “Misal seumpama engkau lakukan ini di rumahku, maka akan lebih baik bagimu.”
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh RA, “Barang siapa ingin melihat seseorang yang selalu menampakkan amalnya karena riya’, maka lihatlah kepada diriku.” (Yang demikian ini beliau katakan untuk bermujahadah agar tidak mensucikan dirinya dan merendahkan hawa nafsunya.)
  • Berkata Ibrahim Bin Adham RA, “Suatu waktu aku melewati suatu batu, maka aku melihat tertulis di atasnya, ‘Kamu atas apa yang kamu ketahui tidak mengamalkannya, bagaimana kamu mencari tambahan daripada ilmu?’”
  • Berkata Yusuf Bin Aswad RA, “Allah SWT pernah memberikan wahyu kepada seorang Nabi daripada para Nabi terdahulu, “Katakan kepada kaummu supaya mereka itu menyembunyikan amal mereka dan tidak diketahui oleh manusia, maka Aku pasti akan menampakkan amalnya di hadapan seluruh manusia.”
  • Diceritakan bahwasanya Habib Abdurrahman Az-Zahid selalu menjelekkan dirinya di depan manusia. Dan di antara isi daripada munajatnya kepada Allah SWT adalah perkataannya, “Siapakah yang lebih jelek daripada aku? Aku selalu bermuamalah dengan hamba-hamba-Mu di depan mereka dengan amanat, sementara aku bermuamalah dengan-Mu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Engkau dengan khianat.”
  • Suatu hari, Sufyan Ats-Tsauri datang kepada Fudhail bin Iyadh RA, dan berkata kepadanya, “Fudhail, berilah aku nasehat.” Fudhail menjawab, “Aku beri nasehat kepada kalian para ulama’ bahwa sesungguhnya kalian bagaikan lampu yang bersinar di dalam suatu kota, tapi kemudian kalian menjadi sesuatu yang gelap, lalu kalian menjadi bagaikan bintang gemintang yang masyarakat mengambil petunjuk dengan bintang gemintang tersebut, akan tetapi kalian sendiri menjadi kebingungan dengannya. Salah satu di antara kalian selalu pergi ke rumah para pejabat, lalu duduk di tempat mereka, bahkan makan dari makanan mereka, serta menerima hadiah mereka. Kemudian masuk ke dalam masjid dan duduk di dalamnya seraya berkata, “Telah sampai kepadaku hadits Rasulullah SAW bahwasanya begini dan begitu.” Ketahuilah! Demi Allah, bukan karena itu ilmu dicari.” Maka menangislah Sufyan, sehingga Fudhail kasihan melihatnya.
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh RA, “Jika kamu melihat seorang yang alim atau seorang ahli ibadah yang senang hatinya ketika disebut sebagai orang yang sholeh di kalangan para pejabat dan orang kaya, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang Muro’iy (pelaku riya’).”
  • Berkata Sufyan Bin Uyainah RA, “Jika kamu melihat seorang Tholibul ‘Ilm (santri) ia bertambah ilmunya, maka bertambah pula dorongan untuk mendapatkan dunia serta melampiaskan syahwatnya, maka jangan ajari dia ilmu. Karena sesungguhnya dengan mengajarinya akan membantunya untuk masuk ke dalam neraka.”
  • Berkata Sholeh Al-Murri RA, “Barang siapa yang mengaku bahwa dia ikhlas di dalam ilmunya, maka hendaknya sodorkan dia pada suatu keadaan di mana jika seumpama masyarakat menyebut dan mensifatinya sebagai seseorang yang bodoh dan seseorang yang selalu melakukan riya’, lalu dia tampak senang hatinya, maka benarlah bahwa ia seorang yang Shodiq (jujur) dalam keilmuan dan pengakuannya. Akan tetapi, jika dalam keadaan itu dia menjadi sedih, galau dan sesak dadanya karena perkataan mereka, maka ketahuilah ia adalah seorang pelaku riya’.”
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh RA, “Di antara tanda-tanda pelaku riya’ dalam ilmu adalah ilmunya sangat banyak bagaikan pegunungan, akan tetapi sangat sedikit dia mengamalkan ilmunya.”

Beliau juga berkata, “Jika seumpama orang yang memiliki ilmu itu mengamalkan dengan ilmunya, maka dia akan merasakan kepahitan ilmunya tersebut, bukanlah dia akan bergembira, karena semuanya adalah tuntutan dan paksaan isi daripada ilmunya itu. Maka setiap kali ia bertambah ilmunya, akan bertambah pula tuntutan dan paksaannya, sehingga pantasnya bagi seorang yang berilmu ia tidak merasa senang dengan ilmunya, kecuali tatkala ia sudah bisa melampaui sirothnya kelak di hari kiamat.”

  • Berkata Sufyan Ats-Tsauri RA, “Carilah ilmu untuk mengamalkannya, karena banyak manusia yang salah dalam hal itu. Mereka mengira bahwasanya keselamatan mereka terletak dalam ilmunya, walaupun tanpa diamalkan. Bagaimana hal itu terjadi? Padahal banyak ayat yang telah diturunkan oleh Allah, begitu pula hadits Nabi SAW disabdakan terkait dengan siksa atas mereka yang tidak mengamalkan dengan ilmunya.”
  • Berkata Imam Robi’ Bin Qays RA, “Bagaimana seorang yang alim itu pantas untuk melakukan riya’ dengan ilmunya? Padahal dia mengetahui bahwasanya mempelajari ilmu bukan karena Allah adalah suatu pekerjaan yang sia-sia. Dan bagaimana mungkin seorang yang merasa seperti itu akan melakukan riya’ terhadap ilmunya? Padahal dia mengetahui secara pasti yang dia lakukan adalah suatu perkara yang sia-sia di mata Allah.”
  • Diriwayatkan bahwasanya Imam Nawawi RA, jika seorang pejabat datang kepadanya tanpa diketahui atau tanpa izinnya sebelumnya, maka ia akan merasa sumpek dengan kedatangannya dan merasa risih karenanya. Dan jika seorang pejabat datang meminta izin untuk masuk ke dalam majelisnya atau terdengar olehnya akan datang menghadiri majelisnya, maka dia tidak akan mengajar pada hari itu. Ia juga berkata, “Termasuk daripada tanda seorang itu ikhlas dalam amalnya adalah jika ia merasa berat ketika manusia mengetahui atas kebaikan amalnya, sebagaimana mereka merasa berat jika manusia mengetahui keburukannya. Karena sesungguhnya senangnya jiwa jika kebaikannya diketahui oleh manusia itu adalah sebuah kemaksiatan. Dan mungkin saja riya’ itu lebih besar daripada kemaksiatan-kemaksiatan yang mengandung dosa besar, karena ia berani melakukan sesuatu bukan karena Allah, padahal suatu amal itu harus karena”
  • Berkata Imam Hasan Al-Bashri RA, “Sangat tidak elok bagi seorang yang alim, jika dia kenyang dengan sesuatu yang halal pada zaman ini. Bagaimana dengan orang yang kenyang dari harta benda yang haram?”
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh RA, “Kalau bukan karena ada sifat kekurangan pada ahli Al-Qur’an dan ahli Hadits (para ulama’), maka mereka itu ialah sebaik-baiknya manusia. Akan tetapi, banyak di antara mereka yang menjadikan ilmu sebagai pekerjaan dan mata pencaharian. Oleh karenanya, banyak dari mereka yang menjadi hina di mata masyarakatnya.”
  • Diceritakan bahwasanya Bisyr Al-Hafi, jika tampak pada dirinya sedikit daripada ‘ujub, maka ia meninggalkan majelis tersebut. Dan sebagian dari mereka yang mengetahui akan keadaannya tersebut tatkala meninggalkan majelis itu berkata, “Apakah yang akan engkau katakan pada Allah di hari kiamat karena engkau telah meninggalkan pengajaran ini.” Maka ia berkata, “Ya, aku akan katakan, “Ya Allah, Engkau yang memerintahkanku untuk mengajar dengan ikhlas, tetapi aku tidak mendapatkan keikhlasan saat itu, maka aku tinggalkan hal itu.”.”
  • Berkata Sufyan Ats-Tsauri RA, “Jika engkau melihat seorang Tholibul ‘Ilm (santri) yang berusaha mencari tambahan ilmu akan tetapi tidak bertambah amalnya, maka jangan engkau ajari dia. Karena barang siapa yang tidak mengamalkan dengan ilmunya, sama seperti pohon Handhol, tambah banyak air disiramkan padanya, maka tambah pahit merasa buahnya.”

Beliau juga berkata, “Jika engkau melihat seorang Tholibul ‘Ilm (santri) yang mencampur-adukkan dalam minuman, makanan, dan pakaiannya dengan sesuatu yang syubhat, maka hendaknya jangan engkau ajari dia. Agar tidak besar pertanggungjawabannya kelak pada hari kiamat.”

  • Berkata Imam Hasan Al-Bashri RA, “Jika seorang hamba mengetahui semua ilmu dan beribadah kepada Allah sampai menjadi seperti tiang-tiang yang sangat kokoh, akan tetapi dia tidak berusaha memeriksa apa yang keluar dan masuk ke dalam perutnya, apakah itu halal atau haram, maka Allah tidak akan menerima darinya satu ibadah pun.”
  • Berkata Abdurrahman Bin Qosim, murid dari Imam Malik RA, “Aku telah melayani Imam Malik selama 20 tahun. Masa itu aku habiskan selama 18 tahun hanya untuk belajar adab dan akhlak, dan dua tahun aku habiskan untuk belajar ilmu. Itupun aku berharap andaikata seluruh masa tersebut aku habiskan dalam berkhidmat kepada Imam Malik dan aku habiskan semua masa tersebut untuk belajar adab.”
  • Berkata Imam Malik RA, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat yang ia miliki, akan tetapi ilmu itu sesungguhnya adalah ilmu bermanfaat yang ia amalkan.”
  • Berkata Imam Syafi’i RA, “Guruku Imam Malik RA telah berwasiat kepadaku, “Wahai Muhammad! Jadikanlah amalmu bagaikan adonan, sedangkan ilmumu bagaikan garam yang ditabur di atas adonan tersebut. Alias adab itu harus jauh lebih banyak daripada ilmunya.”
  • Berkata Abdullah Bin Mubarak RA, “Barang siapa yang menghafal Al-Qur’an atau terdapat ilmu pada dirinya, lalu condong hatinya pada dunia, maka seakan-akan ia telah menjadikan Al-Qur’an tersebut sebagai bahan gurauan dan mainan. Dan jika seseorang dari mereka bermaksiat, maka Al-Qur’an dan ilmunya berkata dalam dirinya, “Demi Allah, bukan untuk ini aku dimiliki oleh seseorang! Manakah nasehat-nasehatku? Manakah wejangan-wejanganku?” Karena setiap huruf yang dia hafal daripada ilmu telah menuntutnya dan berkata, ”Jangan engkau bermaksiat kepada Allah.”
  • Diriwayatkan bahwasanya Imam Ahmad Bin Hanbal RA, ketika dia melihat seorang Tholibul “Ilm atau santri tidak bangun malam untuk tahajjud, maka dia menahan diri untuk mengajarinya. Sebagaimana diceritakan bahwasanya terdapat salah satu dari muridnya, yaitu Abu Ishmah. Dia datang dan menginap di rumahnya, maka Imam Ahmad memberikan air wudhu’nya pada malam hari. Hingga tatkala datang fajar, dia mendapatinya dalam keadaan masih tidur dan air tidak berkurang sedikit pun, maka dia bangunkan Abu Ishmah dan berkata, “Untuk apa engkau datang kepadaku, wahai Abu Ishmah?” Maka dia menjawab, ”Aku datang untuk mencari dan meriwayatkan hadits darimu, wahai Imam.” Maka Imam Ahmad Bin Hanbal berkata kepadanya, ”Bagaimana engkau mencari hadits? Sedangkan engkau tidak bertahajjud pada malam hari? Kembalilah engkau ke tempat asalmu karena engkau tidak layak untuk belajar dengan keadaan seperti itu!”
  • Diceritakan bahwasanya setelah kematian Imam Abu Hanifah, seseorang memimpikannya dan ia bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Maka Imam Abu Hanifah menjawab, ”Allah telah mengampuni dosa-dosaku.” Dia bertanya lagi, ”Apakah dengan ilmu yang engkau miliki Allah mengampunimu?” Maka beliau berkata, “Sangatlah jauh dan bukan karena ilmu. Karena ilmu itu mempunyai syarat-syarat dan penyakit-penyakit yang sangat sedikit orang bisa melaksanakannya serta selamat dari penyakit itu.”
  • Diceritakan bahwasanya setelah kematian Imam Junaid, maka seseorang memimpikannya dan berkata kepadanya, ”Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Maka dia menjawab, “Semua ilmu yang aku punya telah lenyap begitu saja dan tidak bermanfaat bagiku, kecuali beberapa rakaat yang aku laksanakan pada malam hari saat tahajjud.“

 

Kesimpulannya, bahwasanya seorang alim yang amil serta sholeh adalah seorang yang tidak melakukan riya’ dengan ilmunya, dan berusaha untuk melaksanakan semua yang terkait dengan ilmunya dengan dasar ikhlas karena Allah SWT. Semoga kita semua dan semua para ulama’ serta para santri dan para pencinta ilmu agama dapat melaksanakan isi tuntutan ilmu yang sebenarnya, yaitu mencari ridho Allah dan melaksanakan semuanya karena-Nya. Aamin Ya Mujiibassa’iliin…

 

 

TIDAK MENDEKAT KEPADA PARA PEJABAT KECUALI KARENA KEBAIKAN

 

Di antara sifat-sifat orang yang sholeh, dia tidak berusaha untuk mendekat kepada para pejabat, baik pejabat tingkatan tinggi maupun pejabat biasa. Karena umumnya para pejabat memiliki berbagai kepentingan, baik kembali kepada dirinya secara khusus, atau kembali kepada partai yang mendukungnya atau golongannya. Padahal semua hal yang terkait dengan politik biasanya bertentangan dengan agama, sehingga bisa jadi tatkala seseorang mendekat kepada para pejabat, ia akan terbelenggu dengan kebaikannya dan dia tidak bisa melepaskan diri dari belenggu tersebut tatkala pejabat itu melakukan kezhaliman, maka takutnya dia akan terjerumus ke dalam kesalahan dengan mengakui kezhalimannya berupa suatu kebenaran, mendiamkan kezhalimannya atau bahkan membenarkannya. Dengan demikian, maka dia termasuk seorang yang berdosa karenanya.

Oleh karena itu di antara sifat orang sholeh, dia berusaha untuk tidak mendekat kepada para pejabat. Andaikata dia mendekat kepada para pejabat, maksud dan tujuannya adalah amar ma’ruf dan nahi munkar, serta untuk kebaikan dan kemaslahatan bagi umat.

 

 

 

 

  1. Anjuran Mendekati Para Pejabat untuk Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Memang ada dalam beberapa hadits yang menganjurkan untuk mendekat kepada para pejabat, akan tetapi bagi mereka yang mampu untuk mengendalikan dirinya dan mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang alim atau seorang yang sholeh, yang bisa menasehati mereka atau setidaknya membuat pejabat tersebut segan kepadanya tatkala dia akan membuat kezhaliman. Yang demikian itu berdasarkan kepada para sahabat Nabi dan juga para tabi’in yang berkumpul dengan para pejabat dan menerima hadiah mereka, akan tetapi mereka tidak keluar daripada fungsinya untuk amar ma’ruf dan nahi munkar. Jadi sebenarnya, antara para ulama’ dan para umaro’ itu tidaklah dapat dipisahkan. Dan seharusnya mereka berjalan, bergandengan bersam-sama, akan tetapi sesuai dengan fungsi masing-masing karena merekalah yang dimaksudkan dalam firman Allah l yang berbunyi :

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ )النساء : 59(

“Ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisa’ : 59)

Maka yang dimaksud dengan ulil amri di sini adalah para ulama’ dan para umaro’, sehingga seharusnya mereka bersatu-padu berjalan bersama-sama, akan tetapi sesuai dengan standar fungsi masing-masing, tidak saling menguntungkan diri mereka. Yang demikian itu juga berdasarkan beberapa hadits berikut ini :

عَنْ مُعَاذَ بنِ جَبَل رَضِيَ اللهُ عَنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلّى الله علَيه و سلَّم: خَمْسٌ مَنْ فَعَل وَاحِدَةً مِنْهُنَّ كَانَ ضَامِنًا عَلَى الله: مَنْ عَادَ مَرِيضاً، أَوْ خَرَجَ مَعَ جَنَازَةٍ، أو خَرَجَ غَازِياً، أو دَخَلَ عَلَى إِمَامِهِ يُرِيدُ تَعْزِيْرَه وَتَوْقِيْرَه، أَوْ قَعَدَ في بَيتِهِ فَسَلِمَ النَّاسُ مِنهُ وسَلِمَ مِنَ النَّاس )رواه أحمد و الطبراني(

“Ada lima hal yang jika salah satunya dilakukan, maka dia akan mendapat jaminan di sisi Allah:

  1. Orang yang menyambangi orang sakit;
  2. Orang yang mengantar jenazah;
  3. Orang yang keluar untuk jihad fi sabiilillah;
  4. Orang yang datang kepada seorang imam (yaitu pejabat) dengan tujuan untuk memuliakannya dan membantunya sesuai dengan agama dan
  5. Orang yang tinggal di rumahnya, dan tidak keluar kepada manusia, sehingga semua orang selamat darinya, dan dia selamat dari mereka.” (HR. Ahmad dan At-Thabrani)

عَنْ كَعْبِ بْنِ عَجِزَةَ ، قَالَ : قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعِيذُكَ بِاللَّهِ يَا كَعْبَ بْنَ عَجزةَ مِنْ أُمَرَاءَ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِي ، فَمَنْ غَشِيَ أَبْوَابَهُمْ فَصَدَّقَهُمْ فِي كَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَا يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ، وَمَنْ غَشِيَ أَبْوَابَهُمْ أَوْ لَمْ يَغْشَ فَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ فِي كَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ )رواه الترميذي(

“Dari Ka’ab Bin Ajizah RA, dia berkata, “Telah bersabda kepadaku Rasulullah SAW, “Wahai Ka’ab! Aku ingatkan kamu terhadap para umaro’ yang akan datang setelahku! Barang siapa yang datang ke pintu-pintu rumah mereka, lalu membenarkan mereka di dalam kebohongannya, bahkan membantu mereka terhadap kezhalimannya, maka dia bukanlah termasuk dari golonganku, dan aku bukan termasuk dari golongannya, serta dia tidak akan menghampiri telagaku. Dan barang siapa yang tidak masuk, atau masuk ke pintu-pintu rumah mereka, tetapi tidak membenarakan kebohongan mereka, dan tidak menolong kezhaliman mereka, maka dia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya, serta dia akan menghampiriku kelak di dalam telagaku.” (HR. Tirmidzi)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الله : مَنْ وَلِيَ مِنْكُمْ عَمَلاً فَأَرَادَ اللهُ بِهِ خَيراً جَعَلَ لَهُ وَزِيْراً صَالِحاً إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ وَ إِنْ ذَكَرَ أَعَانَه )رواه النسائي(

“Dari Sayyidah ‘Aisyah RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa diangkat di antara kalian untuk menjadi seorang pejabat di mana Allah l menginginkannya dengan kebaikan, maka Allah akan mempersiapkan untuknya seorang menteri sholeh yang jika dia lupa, dia akan mengingatkannya. Dan jika dia sedang ingat kepada Allah, maka dia akan membantunya.” (HR. An-Nasa’i)

 

 

 

  1. Ancaman Bagi Mereka yang Mendekati Para Pejabat untuk Mendapatkan Sebuah Keuntungan Materi

Adapun jika mendekati para pejabat tanpa ada tujuan yang meyakinkan juga tanpa terkait dengan kemaslahatan umat maupun agama, maka bukanlah hal dianjurkan, bahkan banyak ancaman terkait dengan mereka yang melakukannya. Apalagi dengan tujuan untuk mendapatkan kepentingan pribadi, baik berupa harta maupun urusan-urusan lainnya. Dengan dasar hadits-hadits berikut ini :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ فِي جَهَنَّمَ وَادِيًا يُقَالُ لَهُ “هَبْهَب” أَعَدَّه اللهُ لِلْجَبَّارِين وَلِلْقُرَّاعِين المُدَاهِنِين الَّذِين يَدْخُلُون عَلَى أُمَرَاءِ الْجَوْر (رواه الطبراني)

“Sesungguhnya di dalam Jahannam ada sebuah lembah yang disebut dengan ‘Habhab.’ Allah mempersiapkan lembah jahannam itu bagi mereka yang sombong dan bagi mereka para ulama’ yang melakukan Mudahanah (menjual agama untuk kepentingan dunia dan masuk serta berkumpul dengan para pejabat yang zhalim).” (HR. At-Thabrani)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :مَنْ أَتَى أَبْوَابَ السَّلاَطِيْن أُفْتُتِنَ (رواه أبو داود)

“Barang siapa yang datang ke pintu-pintu rumah para pejabat, maka dia akan terfitnah.” (HR. Abu Daud)

 

 

 

  1. Kisah-Kisah Tauladan Para Salaf Terkait dengan Para Pejabat
  • Berkata Ibn Bashrah kepada Malik Bin Dinar RA, “Tahukah kamu apa yang menjadikan engkau berani menentang kepada kami dengan suara tantangan yang tegas dan keras, sementara kami tidak mampu untuk menanggulangimu dan tidak ada kata lain, kecuali patuh kepadamu? Hal itu karena kamu tidak pernah rakus kepada apa yang ada pada tangan kami (urusan dunia) dan kamu tidak berusaha untuk mendapatkannya.”
  • Berkata Ibn Sammaq RA, “Aku pernah datang kepada gubernur Bashrah, maka dia berkata kepadaku, “Berikan aku nasehat, wahai Ibn Sammaq!” Maka aku berkata kepadanya, “Hati-hatilah engkau terhadap amanat yang ada di pundakmu dengan menzhalimi hamba-hamba Allah, apalagi sampai engkau membenarkan sesuatu yang salah dan bathil.”
  • Diceritakan bahwasanya Muhammad Bin Wasi’ telah datang kepada Kutaibah Bin Muslim dalam keadaan dia memakai baju yang terbuat daripada kain suf yang sangat murah harganya dan kainnya kasar, maka berkata Kutaibah kepada Muhammad Bin Wasi’, “Kenapa engkau memakai baju yang terbuat dari suf ini?” Maka Muhammad Bin Wasi’ diam. Kemudian Kutaibah berkata lagi, “Kenapa engkau tidak menjawab perkataanku?” Maka kemudian Muhammad Bin Wasi’ menjawab, “Jika aku katakan karena aku zuhud kepada dunia, berarti aku telah membersihkan jiwaku. Dan jika aku katakan memang aku tidak punya dan tidak mampu membeli baju yang lebih bagus daripada itu, berarti aku telah mengadu dan sambatan kepada Tuhanku.”
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh RA, “Demi Allah, kalau seumpama Harun Ar-Rasyid meminta izin untuk bertemu denganku, aku tidak akan izinkan dia, kecuali jika dia memaksaku untuk hal itu.”
  • Muhammad Bin Ibrahim, dia sempat pergi kepada gubernur Makkah, ingin bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri ketika berada di tempat thawaf, maka dia berkata, ”Apa yang kamu inginkan dengan salammu? Jika tujuanmu supaya aku tahu bahwasanya engkau sedang thawaf, pergilah. Aku sudah tahu engkau sedang thawaf.”
  • Berkata Fudhail Bin Iyadh RA, “Tidak pantas dan tidak layak seseorang mendekat kepada para pejabat serta berkumpul dengan mereka, kecuali seperti Amiirul Mu’minin Umar Bin Khotthob RA. Adapun orang semacam kita tidak pantas untuk melakukannya karena kita tidak bisa memberikan nasehat dan mengingkari suatu kemungkaran, seperti ingkarnya dan cara menasehatinya Sayyidina Umar Bin Khotthob.”
  • Diceritakan bahwasanya sahabat Mu’awiyah RA berbicara dengan suatu ucapan, maka Ahnaf Bin Qays RA duduk dan tidak menyahut sedikit pun. Maka sahabat Mu’awiyah berkata kepadanya, “Kenapa engkau tidak berbicara untuk merespon ucapanku, wahai Ahnaf?” Dia menjawab, “Aku takut kepada Allah jika aku berbohong, dan aku takut kepadamu jika aku jujur. Maka aku berpendapat bahwasanya diamku itu lebih baik dan lebih menyelamatkan.”

 

Kesimpulannya bahwa seorang yang sholeh itu tidak akan mendekat kepada para pejabat, kecuali jika ia merasa ada kemaslahatan untuk umat dan bukan untuk pribadinya. Semoga para pejabat kita Allah jadikan para pejabat yang sholeh, dan mereka para sholihin dan orang-orang yang mendekati pejabat juga menjadi orang-orang yang baik menasehati mereka. Dan semua tujuan nya hanya karena, bertemu karena Allah, mencinta karena Allah, juga membenci dan berpisah karena Allah. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin…

Penjelasan Habib Segaf Baharun tentang Ciri Ciri Orang Sholeh

Ustadz Hasan Basri Bersama habib Segaf baharun
Ustadz Hasan Basri Bersama habib Segaf baharun

Kunjungi hilyah.id

Etika Hutang Piutang

Apakah itu Taufiq Apakah itu Khudzlan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *