Apakah itu Taufiq Apakah itu Khudzlan ?

Posted on

Apakah itu Taufiq ?, Apakah itu Khudzlan ?, UNTUK SIAPA TAUFIK DAN UNTUK SIAPA KHUDZLAN ?

Malam ini kita akan berbicara terkait dengan suatu masalah dalam kehidupan yang sering terjadi kepada kita tapi kita tidak merasa, yang berlaku kepada seluruh manusia yang sudah dilalui atau sedang dilalui atau akan dilalui oleh seorang manusia, Apa itu? Taufik dan khudzlan, Apa arti taufik dan apa arti khudzlan, kita akan membahasnya pada malam ini, Untuk siapa taufik dan untuk siapa khudzlan, kita juga akan membahasnya malam ini, Semoga kita mendapatkan keberuntungan dengan kita menyebutkan antara dua golongan ini, dan semoga kita diberuntungkan oleh Allah Ta’ala termasuk pada golongan ahli taufik wal hidayah, Aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin,

Taufik adalah sebuah lintasan dalam hati seseorang untuk berbuat, atau berkata, atau melintaskan dalam hatinya sesuatu niat yang diciptakan yang digerakkan oleh sang Penggerak, yaitu Allah SWT, Sehingga manusia tersebut dapat melaksanakan suatu kebaikan, baik itu ucapan tindakan maupun niat,

Sedangkan khudzlan adalah sebaliknya yaitu suatu lintasan di dalam hati untuk berbuat kejahatan, baik berupa sebuah ucapan, tindakan maupun sebuah niatan, dimana yang menciptakannya juga Allah untuk orang itu, kemudian melakukan suatu kemaksiatan,

Kita akan bahas antara taufik dan khudzlan sehingga kita lihat setelah kita mengetahui akan hakikatnya dan habitat yang terjadi maka ada beberapa hal yang harusnya kita petik menjadi suatu pelajaran dan suatu hikmah untuk kita semuanya,

Muyassar dan Mukhoyyar

Yang pertama adalah kita harus tahu bahwasanya manusia ini dari satu sisi musayyar yaitu sisi Allah SWT, Allah mengetahui seluruh manusia itu musayyar, Tapi dari sisi manusia itu sendiri menyikapi apa yang akan terjadi dan apa yang akan dia lakukan itu adalah mukhoyyar, Kalau kita katakan bahwasanya semuanya musayyar dan memang benar itu dalam pengetahuan Allah atau pengetahuan kita tapi itu tidak akan memberikan arti bertakwa kepada Allah Ta’ala kepada kita sehingga kita banyak yang berpasrah, Padahal pasrah itu termasuk sebuah keputus asaan dan Allah Ta’ala sangat melarang sifat putus asa itu daripada manusia dan hamba-Nya,

Oleh karena itu, dari sisi Allah musayyar, dari sisi kita mukhoyyar, Walaupun kenyataan yang terjadi sesungguhnya musayyar, Ambil contoh sekarang, kita berada di dalam keadaan yang sangat mulia, menghadiri majelis taklim walaupun secara online, tapi insya Allah tidak kalah pahalanya daripada seseorang yang menghadiri secara langsung bertatap muka, Setelah ini selesai tepatnya jam 9 lewat sedikit, apa yang akan kita lakukan? Kita mau tidur, kita mau makan, kita mau ngobrol, kita mau diskusi, kita ingin pergi, apapun yang kita ingin lakukan, bukankah setiap orang mempunyai pilihan?

Habib Ahmad mempuyai pilihan apa yang direncanakan, Bisa merencanakan, apa rencana antum Habib setelah selesai ta’lim online ini? Banyak apa sedikit apa tertentu atau tidak terbatas? Dikit aja, Beliau termasuk yang sedikit rencananya, dia termasuk yang qana’ah, Semoga kita termasuk seperti beliau,

Jadi sedikit itu, contohnya seperti apa? Keluar dari sini mau ngapain? Mau tidur supaya cepat bangunnya karena malam ini kan tidak ada bola, Jadi beda, kalau semalam ada bola berarti tidur cepetan biar bangun lihat bola, Tapi beliau mau tidur malam ini, tidak ada bola nanti malam, jadi artinya untuk melaksanakan kebiasaannya shalat tahajjud, Semoga kita termasuk yang seperti beliau yang selalu melaksanakan tahajjud insya Allah,

Antum punya rencana berapa Habib Hasan? Sedikit, Apa rencananya? Pengen ngulangi belajar, khidmah pada orang tua, Jadi sesuai dengan wajahnya, Namanya Hasan, wajahnya hasan dan niatnya perlakuannya hasan, Semoga beliau selalu berkesinambungan diberikan hidayah oleh Allah Ta’ala,

Begitu pula saya punya anak Habib Ahmad yang menyertai saya, ada rencana setelah jam 9 nanti selesai online? Ada, Di antara rencana, sedikit apa banyak? Sedikit, Apa itu? Muroja’ah, makan, Hal yang semacam ini saya tampakkan, supaya kita itu mengambil suatu pelajaran ini yang terjadi pada setiap manusia, Setiap orang pasti punya rencana dan merencanakan suatu rencana, Berarti kalau dia punya rencana, berarti kan mukhoyyar, punya banyak pilihan,

Diantara pilihan manusia, kalau seumpama saya memberikan pilihan kepada Sayyid, habis taklim langsung mati ya, Tidak mau, Berarti setiap orang ada pilihan, Kalau dia itu mau, dia tinggal taruh diri di atas rel atau taruh diri di atas embong, Dia tidak mau berarti kan mukhoyyar, Jadi yang mukhoyyar itulah kita jadikan sebagai pukulan untuk diri kita, Jangan sampai kita melakukan atau menggunakan komponen dan anggota badan kita untuk maksiat, karena sebab pilihan itulah Allah akan mengazab kita, menulis kepada kita dosa,

Akan tetapi sesuatu yang sudah berlalu, ataupun sesuatu yang masih akan datang yang akan kita lakukan daripada kebaikan, itu musayyar daripada Allah SWT, Kita menganggapnya seperti itu, Oleh karena itu hidayah itu termasuk sesuatu yang sangat mahal, Dari saking mahalnya, dari saking jarangnya, sampai-sampai Nabi kita Muhammad SAW yang diberikan sebuah anugerah tanpa batas sebuah karunia yang sangat luas, lebih luas daripada karunia yang Allah turunkan kepada Nabi Adam, Nabi Sulaiman, Nabi Daud, Nabi Yusuf dengan kerajaannya, bukan cuma di dalam masa hidupnya, tapi setelah meninggalnya pun juga seperti itu, tapi ternyata beliau sendiri ditegur oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Engkau, wahai Muhammad, tidak akan bisa memberikan sebuah petunjuk yang berupa hidayah dan taufik kepada seorang manusia pun, (Al Qashash; 56)

walaupun dia itu sangat engkau sayangi, walaupun dia sangat engkau cintai, Itu teguran Allah kepada Nabi Muhammad yang begitu dikasihinya, yang begitu dicintainya, manusia super istimewa, nabi dan rasul yang tidak ada duanya, yang tidak ada yang bisa menyamainya, Itu pun dilakukan dan dikatakan demikian oleh Allah SWT, apalagi orang yang seperti kita,

Oleh karena itu, setelah kita tahu bahwasannya tidak ada satu orang pun yang berbuat kebaikan, kecuali Allah yang berkehendak, sebagaimana tidak ada seorangpun yang berkehendak untuk melakukan suatu kemaksiatan, kecuali Allah yang berkehendak, Itu yang harus kita ketahui sebagai basic untuk kita mengetahui dan mempelajari, kita mengevaluasi apa yang terjadi selanjutnya,

Taufik daripada Allah, khudzlan juga daripada Allah, Tapi kita mukhoyyar bukan musayyar, Dari sisi Allah, iya musayyar, tapi diri sisi kita, mukhoyyar, Kalau kita katakan musayyar semuanya, maka tentunya kita akan berpasrah diri pada Allah Ta’ala, Terserah Allah mau dimasukkan neraka, mau dimasukkan surga,

Oleh karenanya, iblis pernah datang kepada Imam Syafi’i RA, iblis berkata begini, “Wahai Syafi’I, apakah pendapatmu terkait dengan Tuhan yang menciptakan dengan sesukanya, menggunakan dengan sesukanya, lalu memasukkan surga atau neraka dengan kehendaknya? Apakah dia itu dzolim ataukah dia itu adil terkait dzat yang melakukan itu?” Apa jawaban Imam Syafi’i?

Imam Syafi’i berkata dengan ilham daripada Allah SWT, “Kalau engkau tercipta dengan kehendakmu, maka Allah salah, Tapi kalau engkau tercipta dengan kehendak-Nya, maka Allah tidak salah, Karena engkau saja tercipta dengan kehendak-Nya, maka apapun yang terjadi setelah itu ya dengan kehendak-Nya, Dan Allah tidak disifati dengan dzalim, Karena dzolim itu :

وَضْعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ,

“Tapi ini, فِي مَحَلِّهِ dia yang menciptakan, dia yang akan menggunakan, dia akan menentukan nasibnya dan sebagainya, semua terserah dia pencipta”, Itu yang terjadi,

Yang Paling Takut dengan Allah adalah Ulama’

Oleh karena itu, kenapa sih orang yang paling takut pada Allah itu kok ulama’? Ada beberapa faktor kenapa ulama’, para auliya’, para sholihin yang paling takut pada Allah,

Yang pertama, tentunya kita tahu semuanya mereka takut kepada Allah karena mereka tahu dengan sifat-sifat dan sesuatu yang terkait dengan Allah SWT, menyakini, mengimani sebagaimana kita diwajibkan untuk beriman dengan rukun iman yang enam, Sehingga mereka itu menjadiseorang yang paling takut karena dia meyakini,

Sama seperti tatkala seseorang yang akan di-eksekusi mati jam 2, atau seseorang yang masuk ke dalam hutan yang entah apa yang akan terjadi di hutan itu, karena di situ banyak binatang buas daripada harimau, buaya, kalajengking, ular dan lain sebagainya, Kira-kira rasa takut yang akan dialami oleh dua orang, yang satu takut di-eksekusi jam 2, yang satunya lagi takut diterkam oleh binatang buas, Kira-kira menurut pikiran kita dan akal kita, lebih takut yang mana? Yang pertama yang akan dieksekusi pada jam 2, atau orang kedua yaitu yang berada di dalam hutan di antara binatang buas?

Jawabannya adalah yang pertama, karena eksekusinya lebih banyak kepastian ketimbang sebuah pertimbangan, Jadi, kalau sudah dieksekusi besok jam 2 malam dini hari akan dieksekusi, Sementara yang ada di dalam hutan, memang dia tahu di situ banyak binatang buasnya, tapi belum tentu dia bertemu dengan mereka, Sama-sama takut, tapi lebih takut yang pertama karena yang pertama itu hampir dikatakan pasti tinggal tunggu waktu saja,

Tapi yang berada dalam hutan belum tentu, Itu yang menentukan rasa takut dan sebagainya itu karena kejadian, ketentuan, Dia tahu bahwasanya manusia itu yang mempunyai tugas sebagai seorang pejabat, yang terkait dengan keputusan orang itu dieksekusi atau tidak, sudah mengatakan demikian dan biasanya kalau sudah dikatakan demikian, maka sulit sekali, kecil sekali kemungkinan untuk tidak jadi,

Sementara orang yang berada di dalam hutan dia cuma dengar dari orang bahwasanya di hutan itu banyak binatang buas, Ada harimau, ada buaya, ada ular, ada kalajengking, ada beruang dan lain sebagainya, Sehingga dia mulai berfikir kalau beruang yang akan saya temukan, apa yang akan saya lakukan? Kalau harimau yang akan ditemui, maka apa yang harus dilakukan? Ini dipertimbangkan, tapi yang satunya tidak ada pertimbangan, Bedanya antara orang beriman dengan orang tidak beriman, kadar imannya yang kuat yang besar sama yang kecil, yang tipis seperti itu, Itu yang pertama, Para ulama’, para auliya’, para sholihin mereka itu takut kepada Allah karena mereka tahu sebagaimana orang yang dieksekusi itu,

Ambil contoh lain, Kita tahu jalan setapak yang akan kita lewati atau gang buntu yang sangat sempit itu telah dibuat jebakan, dan kita melihat jebakan itu dibuat, Dalamnya dari permukaan tanah sampai ke bawah 2,5 meter, lebarnya 1 meter dan di ujung paling dalam itu telah dipersiapkan paku sepanjang 30 cm, Bukan cuma satu, tapi 75 paku yang sekiranya kalau kita jatuh ke sana, 75 paku akan menancap ke badan kita, Mau kepala dulu yang menancap, mau kaki dulu yang menancap, mau perut dulu juga, Kira-kira lebih banyak selamatnya atau tidak? Lebih banyak hidupnya apa matinya? Matinya kan?

Dia tau, dia liat lalu ditutupi dengan kain yang halus, lalu ditambah lagi dengan tanah di atasnya sehingga tidak tampak sama sekali kalau itu ada jebakan, Dia tau, dia liat sendiri, Ada lagi satu orang, dia baru tiba di situ, Dia tidak paham kalau di situ ada jebakan, tidak ada yang memberitahu, dia tidak melihat sendiri, kira-kira beda tidak takutnya antara orang yang tahu di situ ada jebakan, dengan orang yang tidak tahu? Beda sekali, Oleh karenanya Allah Ta’ala menegaskan di dalam Al Qur’an :

لا يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Tidak sama, orang yang tau dengan orang yang tidak tau, (Azzumar 9)

Dia tau di sini ada jebakan, dia tidak mau lewat, Mau dipaksa bagaimana pun, dia akan lawan karena tidak mau dia mati konyol, Sementara orang yang tidak tahu, dia mau saja lewat situ yang akan mengakibatkan, akhirnya dia terjerumus dan tersungkur dan mampus, Itu yang terjadi,

Oleh karenanya, para ulama’, para sholihin dikatakan orang yang paling bertakwa kepada Allah, satu karena mereka itu tahu dengan ilmu, Ilmu itu harus kita miliki, Pengetahuan agama itu harus kita pelajari melebihi daripada kita mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, Karena ini ilmu yang bukan hanya terbatas penggunaannya di masa yang sangat sempit dan singkat, yaitu di dunia saja, Tapi sangat panjang efeknya dampaknya, yaitu sampai kita meninggal nanti,

Yang kedua, kenapa mereka itu orang yang paling takut? Karena mereka merasakan nikmatnya orang yang berbuat baik dan menjauh daripada segala macam kemaksiatan, Dia tidak tahu sendiri akibatnya orang yang berbuat dosa karena dia menjauh dari berbuat dosa, tapi dia tahu nikmatnya orang berbuat kebaikan sehingga walaupun dipaksa, dia tidak akan mau mendekati suatu kemaksiatan dan melakukan suatu larangan,

Sehingga biasanya keimanan orang-orang yang bertakwa, orang yang berilmu, para ulama’, para sholihin apalagi para auliya’ itu sangat kuat dan kokoh karena itu, Bahkan lihat bagaimana para auliya’ mengatakan, “Kalau seumpama mereka tahu kenikmatan yang kami rasakan pada malam hari ketika kami tahajjud, maka niscaya mereka akan memerangi kami karena mereka itu iri dengan apa yang kami rasakan”,

Berkata Al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, “Kalau bukan karena bangun malam, kalau bukan karena bertemu dengan para kekasih, para sahabat yang sholeh, maka niscaya aku tidak ingin lagi tinggal hidup di dunia ini”,

Habib Hasan bin Sholeh Al Bahr mengatakan, “Kalau seumpama di surga tidak ada nikmatnya bangun malam, maka surga itu tidak ada berasa nikmat”, Sampai berkata demikian sehingga dia kokoh keimanannya, Pengalaman yang memberikan mereka itu sebuah rasa takut yang berlebih daripada orang-orang yang lainnya, karena dia itu mengalami sendiri,

orang bertakwa karena mahabbah, Cinta

Kemudian yang ketiga mereka menjadi orang bertakwa karena mahabbah, karena cinta, Kita selalu mendengar :

الْمَحَبَّةُ تُعْمِيْ وَ تُصِمُّ,

Cinta itu bisa membutakan seseorang, bisa menulikan telinga seseorang, sehingga dia tidak peduli apapun yang terjadi padanya, Cinta mereka pada Allah itu luar biasa, cinta mereka pada Nabi Muhammad itu luar biasa, dan itu sifat orang mukmin, Setiap orang mukmin pasti cinta pada Allah, setiap orang mukmin pasti cinta pada Nabi Muhammad SAW mau tidak mau,

Sama seperti kalau kayak begini, kita kenal dengan seseorang, Begitu kita kenal sama orang itu apapun yang dia perlukan, kita cukupi, Mau kawin disediakan tempat, disediakan lamarannya, disediakan uang untuk bekalnya, dia mau pergi disediakan bekalnya, dikasih uang pesangonnya dan untuk beli hadiah untuk keluarganya ketika kembali nanti, selama di perjalanan apapun yang dia butuhkan dicukupi, dia pulang ke rumah, semua kebutuhan rumah tangga dia cukupi, Kira-kira orang yang semacam itu kepada yang melakukan hal yang semacam itu tersebut tadi, kira-kira bagaimana dia cintanya? Luar biasa kan? Itulah yang mereka ketahui,

Mereka tahu semua kenikmatan yang mereka rasakan termasuk kategori yang pertama dan kedua tadi, yang menyebabkan mereka itu termasuk orang yang bertakwa pada Allah Ta’ala itu datangnya daripada Allah melalui Nabi Muhammad SAW, sehingga begitu cinta kepada Allah dan rasul-Nya Nabi Muhammad SAW, Cinta itulah yang akhirnya menjadikan mereka orang yang paling bertakwa kepada Allah Ta’ala,

Apa yang harus kita petik kalau kita sudah tahu, ternyata orang yang mendapatkan petunjuk hidayah itu dari Allah dan orang yang mendapatkan khudzlan juga datangnya daripada Allah? Maka yang harus kita petik itu ada beberapa poin yang harus kita pelajari dan kita putuskan dalam diri kita, dalam kita memandang kepada sahabat kita, saudara kita, keluarga kita siapa pun yang ada di dunia ini, Karena mohon maaf sekali lagi saya ucapkan dan saya sampaikan, kita ini membawa diri sendiri,

Oleh karenanya Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an :

قُوا أَنْفُسَكُمْ

Selamatkan diri kita dulu daripada segala macam dosa sebelum orang lain, Karena orang lain itu orang lain, Tidak disebutkan, ‘anfusakum’ itu diri kita, anak kita, istri kita, Allah Ta’ala membedakan :

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ

 

(At Tahrim; 6)

Jagalah diri kalian dan keluarga kalian, Berarti apa? Orang lain, Dari sisi ini kita harus menganggap mereka orang lain, Tidak bisa kita bersandar pada mereka dan mereka tidak bisa bersandar kepada kita, Kita pun juga dalam keadaan was-was, kita pun juga dalam keadaan ketakutan,

Bagi yang merasa bahwasanya dirinya itu aman, tidak mungkin dia itu terjerumus, tidak mungkin dia itu luput, tidak mungkin dia itu kemudian salah di dalam melangkah maka berarti dia itu adalah orang-orang yang tidak aman daripada makarnya Allah, Tambah iman, tambah bertakwa seseorang, maka akan tambah takut kematian dalam keadaan su’ul khotimah,

Dan cukup sebagai bukti iblis al la’in, Semoga kita tidak pernah dijumpakan dengannya tidak di dunia, tidak di alam barzah maupun di alam mahsyar nanti naudzubillah, kita tidak pernah berjumpa dengannya, Di mana iblis itu sudah beribadah kepada Allah Ta’ala selama 185,000 tahun, Dia pernah menjadi ketua penasehat para malaikat, dia pernah menjadi gurunya para malaikat, dia pernah menjadi sebagai pemimpin daripada para malaikat khusus rohaniyin, dia sudah pernah berkeliling sekitar arsy Allah selama 3000 tahun, Dan tidak ada seorang pun malaikat yang menyangka bahwasanya iblis, yang dikatakan dan diceritakan oleh Nabi kita Muhammad SAW, ketika salah satu malaikat berjumpa dengannya, maka dia akan kembali kepada rekannya dalam keadaan bangganya luar biasa karena telah berjumpa dengan makhluk Allah yang paling banyak ilmunya, makhluk Allah yang paling banyak ibadahnya, Tidak ada yang menyangka bahwasanya akhir daripada kehidupan iblis itu akan ditutup seperti itu,

Oleh karena itu, yang harus kita lakukan dan harus kita pelajari dan kita ambil hikmah dan pelajaran yang pertama, bahwasanya hidayah dari Allah dan khudzlan juga dari Allah, Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar kita selalu diberikan hidayah oleh Allah SWT, Meminta itu dengan cara bagaimana? Kalau kita meminta kepada manusia, kita meminta kepada manusia tersebut dengan ucapan meminta seperti tolong dong dan lain sebagainya,

Tapi kita meminta pada Allah Ta’ala dengan cara bagaimana? Berdoa, Ternyata doa itu ada sebab musabbabnya, ternyata doa itu ada syarat-syaratnya supaya doa kita di dengar oleh Allah SWT,

Maka di antaranya agar doa itu di dengar oleh Allah SWT, maka makanannya harus halal, kelakuannya itu jauh daripada hal yang diharamkan dan dilarang, kemudian kita berusaha untuk mencari waktu-waktu sesuai dengan yang di anjurkan di himbaukan oleh Nabi Muhammad SAW, Banyak syaratnya, Berarti apa? Jadi orang sholeh dulu, baru kita berdoa,

Oleh karena itu, maka Allah mengajarkan kepada kita, yaitu setiap shalat kita minta hidayah, Yaitu di dalam Al-Qur’an tepatnya pada Al-Fatihah yang kita baca setiap shalat yaitu :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Berikan kami petunjuk Yaa Rabb, jalan yang lurus, (Al Fatihah;6)

yang engkau berikan pada mereka orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka daripada para Nabi, para shiddiq, para sholihin, para syuhada, Itu yang pertama,

Hidayah itu mahal dan yang mahal itu mintalah kepada yang Dzat yang mempunyai barang itu, Kalau dia mempunyai, berarti dia akan memberikan tanpa dijual, Tapi kita harus datang kepada-Nya dalam keadaan kita tidak berlumuran dosa,

Yang kedua, jangan pernah kita merendahkan orang lain, Karena orang lain itu berdosa, ujian bagi kita dan ujian bagi dia, Ujian bagi dia jelas, bagaimana setelah melakukan dosa, Kembali ke jalan yang benar dengan bertaubat kepada Allah Ta’ala atau tetap, Ujian bagi dia jelas, bagaimana setelah dia itu melakukan dosa, maka Allah akan mengganjarnya dengan keadaan-keadaan yang dia tidak suka, Itu akibat apa yg dia lakukan,

Lalu ujian bagi kita apa? Ujian bagi kita, ketika kita melihat ada seseorang yang dia melakukan kemaksiatan dengan dengan khudzlan yang Allah ciptakan di dalam dirinya adalah bagaimana kita menyikapinya, bagaimana kita memandangnya, bagaimana kita menghadapi keadaan bersamanya, Apakah kita akan merendahkannya? Aku tidak mau engkau bersama dia karena dia itu orang pendosa, rambutnya panjang, tatoan, dan sebagainya, Jangan, Ini ujian bagi kita, Bisa jadi bukan dia itu, Bisa jadi seorang malaikat, Bisa jadi bukan dia itu, bisa jadi cuma bayangan, Kita tidak faham, Bisa jadi memang dia yang melakukan dosa seperti yang kita ketahui tapi sekarang dia bertaubat dan Allah Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Qur’an :

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ,

(Al Baqoroh; 222)

Allah cinta, bukan menerima bukan menyambut, Tapi dikatakan dalam Al-Qur’an ini, Allah cinta kepada orang yang bertaubat, Jadi langsung dapat cinta-Nya karena taubatnya,

Bahkan di antara yang menyebabkan Barseso seorang yang dekat kepada Allah sampai dikatakan tidak pernah melakukan suatu pekerjaan yang haram sama sekali, yang di antaranya menyebabkan dia itu kemudian terjerumus ke dalam dosa-dosa dan akhirnya dia meninggal dalam keadaan su’ul khotimah untuk kita jadikan sebagai sebuah pengingat bagi kita,

Jadi Barseso itu adalah seorang yang seumur hidupnya tidak pernah berdosa, Tapi di akhir hidupnya ternyata orang yang berdosa, Oleh karenanya, cukup suatu bukti hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :

إِنَّ أَحَدَكُم لَيَعْمَل بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّة حَتَّى مَا يَكُوْن بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاع فَيَسْبِقُ عَلَيْه الكِتَابُ، فَيَعْمَل بِعَمَلِ أَهْلِ النَّار، فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّار، حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَه وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاع، فَيَسْبِق عَلَيْهِ الكِتَاب، فَيَعْمَل بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّة، فَيَدْخُلُهَا

Sesungguhnya ada di antara kalian, siapa di antara kalian? Bisa jadi saya, bisa jadi orang lain, bisa jadi anda yang termasuk ditentukan kita itu beramal dengan amalan ahli surga, tapi kemudian ternyata kita dikehendaki Allah Ta’ala termasuk ahli neraka, (HR. Muslim)

Sehingga di akhir umurnya dia melakukan suatu dosa yang menyebabkan dia akhirnya masuk neraka,

Lihat bagaimana rasa takutnya Sayyidina Umar bin Khottob, Beliau mendampingi Nabi Muhammad, Beliau yang mengatakan, “Demi Allah, wahai Rasul, bahwasanya engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri, melebihi daripada semua orang, lebih dari apapun juga yang ada padaku”,

Tapi ketika Nabi SAW mengatakan bahwasanya terakhir dikeluarkan daripada neraka adalah dari bani fulan, Maka di saat itulah Sayydina Umar bin Khottob berkata, “Andaikan saja aku ini adalah orang itu”, Kenapa? “Karena jelas dia masuk surga, Walaupun setelah ribuan tahun dia masuk neraka, tapi dia jelas masuk surga, adapun aku belum jelas masuk surga”,

Padahal beliau itu termasuk salah satu sahabat Nabi yang ditanggung masuk surga, tapi takutnya luar biasa karena tidak ada yang tahu, Iya sekarang kita begini, karena Allah berkehendak, Tapi ketika di akhir umur kita gimana seperti yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala, kita tidak faham,

Oleh karenanya, Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir, beliau itu berqosidah :

يَا رَبِّ مَا مَعَنَا عَمَّا عَمَلٍ, وَكَسْبُنَا كُلُّهُ زَلَلٌ , لكِنْ لَنَــا فِيْــكَ أَمَـــلُ, تُحْيِيْ الْعِظَـــامَ الــــــرَّامَةُ

Ya Allah, aku tidak mempunyai amal yang bisa diharapkan, Semua datang dari-Mu, Aku bisa begini karena Engkau berikan ilmu, Aku bisa begini karena Engkau berikan kesempatan, Aku bisa begini karena Engkau yang memberikan semua kenikmatan yang ada pada diriku sehingga kita bisa berbuat seperti ini, Kita dimanjakan, Dan semua usaha-usaha kita, bisa jadi karena niat kita yang tidak baik, usaha kita yang tidak baik, bisa jadi gagal dan tidak diterima oleh Allah Ta’ala, Siapa yang tahu?

Oleh karenanya, mereka sangat takut pada Allah Ta’ala terkait dengan su’ul khotimah, Nabi Muhammad SAW bersabda dalam haditsnya :

فَإِنَّ الْأُمُورَ كُلَّهَا بِخَوَاتِمِهَا,

(HR. Al Bukhari)

صحيح البخاري (8/  103)

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

 

Seseorang itu tidak ditentukan pada awalnya, seseorang itu tidak ditentukan pada pertengahannya, seseorang itu ditentukan pada akhirnya, Bagaimana akhir kita itulah ketentuan kita,

Bagaimana mungkin kita mengatakan orang yang bertato berarti itu lebih jelek daripada kita? Siapa yang bilang? Siapa yang menentuka? Lihat bagaimana Nabi SAW bersabda dan mengkisahkan seseorang di antara kalian yang bisa jadi kita, Dia mengatakan dari kecil dia itu diciptakan, dipergunakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, tapi di akhir umurnya berubah,

Oleh karenanya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita untuk membaca doa :

اللّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ,

Wahai Dzat yang selalu membolakbalikkan hati, tetapkanlah hatiku di dalam jalan yang lurus ini, (HR. At Tirmidzi)

Semoga kita semua orang yang dipilih Allah Ta’ala untuk berada di jalan yang lurus ini,

Yang ketiga, kita harus tahu dan memastikan diri bahwasanya setiap orang yang mendapatkan hidayah itu adalah anugerah daripada Allah, Sementara orang yang mendapatkan khudzlan, belum tentu itu merupakan sebuah ujian atau sebuah azab bagi dirinya, Yang tahu hanyalah Allah, Malaikat pun tidak tahu, Nabi pun tidak tahu kecuali mereka-mereka yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala, diberikan izin untuk mengetahuinya, Kita tidak tahu apakah ini merupakan suatu anugerah ataukah merupakan sebuah laknat, Oleh karena itu marilah kita bersama-sama belajar, duduk sama-sama rendah, berdiri sama-sama tinggi, Sosial itu tidak menentukan, Status sosial seseorang hanya terlihat di kasat mata manusia, sementara orang bertakwa di antara kita hanya Allah yang tahu,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

(Al Hujurat; 13)

Yang paling mulia di antara kalian, bukan dengan pengetahuan manusia, bukan yang ditetapkan oleh manusia, bukan yang di-ekspos oleh manusia, bukan yang di-promokan oleh manusia, bukan yang ditentukan dalam lembaga oleh manusia, Tidak, Tapi orang paling mulia kepada Allah adalah orang yang bertakwa dan itu hanya sisi Allah yang tahu, Semoga kita termasuk orang yang bertakwa kepada Allah, sehingga kita termasuk yang dimuliakan oleh Allah di dunia sampai diakhirat nanti, Aamiin

Ceramah Habib Segaf Baharun

 

Metode Mengajar Bahasa Arab, Ustadz Hasan Basri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *